A Heart Made From Glass 1

“I need a place to cool my mind,

I need a knight to protect my crown,

I need a word to answer my question,

I need an embrace to control my self,

I always thought that,

I need a million other thing to make me feel,

And I realize,

All I need is only you.”

***

1st thing: A Place to Cool My Mind

“Matahari, bisa tolong bawakan buku-buku ini ke ruang guru?” Tanya Bu Estell.

Itu sih bukan pertanyaan, batinku sambil berjalan menghampiri guru sejarah paruh baya itu, memangnya aku diberi pilihan?

“Baik, Bu,” jawabku sambil tersenyum sembari mengangkat tumpukan buku super tebal yang ditumpuk di atas meja guru itu. Dimana para laki-laki sok perkasa itu di saat-saat seperti ini? Sembunyi-sembunyi, kuedarkan pandang ke seluruh penjuru kelas. Nihil. Tahu mereka akan disuruh membawa barang berat, semua siswa di kelasku mendadak ingin buang air masal; hilang semua. Dalam hati aku mengoreksi jabatanku yang sebenarnya bukanlah ketua kelas, melainkan kuli angkut kelas.

Baru saja aku akan merenggangkan badan akibat beban seberat 8 kilogram yang baru saja aku letakkan di meja Bu Estell, sebuah suara memanggilku. Saat itu juga aku tahu rencana istirahatku gagal total. Aku menoleh dan mendapati seorang gadis sedang berlari-lari kecil ke arahku.

Ya ampun, aku menghela nafas diam-diam, tidak bisa ya kalau tidak pura-pura sok imut? Tali sepatumu lepas. Lebih baik mengikatnya sekarang daripada bibirmu mencium lantai karena menginjak tali sepatumu sendiri.

“Lena,” ucapku saat gadis itu sampai di hadapanku, tidak lupa ia menata poninya setelah “jogging” singkat tadi. “Biar kutebak. Tidak bisa mengerjakan tugas kelompok nanti siang karena harus membeli buku pegangan?”

Sudah disindir seperti itu, biasanya orang normal akan tersipu malu dan berusaha menyanggah kalimatku. Tapi tidak untuk yang satu ini, alih-alih malu, Lena malah sepertinya terlihat senang karena aku berhasil menebak maksudnya mendatangiku. “Aku ada acara keluarga, Matahari.” Koreksinya. Seakan aku peduli saja apapun alasannya.

Urusan keluarga, ulangku masam, adik laki-lakimu yang terakhir sunat untuk yang kedua kalinya?

“Bukan masalah,” kataku, lagi-lagi sambil tersenyum. “Akan kukerjakan bagianmu juga.”

Bibir Lena baru saja terbuka untuk mengatakan sesuatu ketika aku menambahkan, “Tentu saja aku akan memasukkan namamu.”

Dan Lena berjalan meninggalkanku dengan senyum mengembang di wajah. Di sisi lain, aku sedang bertaruh dengan diriku sendiri apakah jam 1 dini hari nanti aku sudah selesai mengerjakan tugas itu.

Aku membuka flap ponselku dan mendapati pesan singkat yang dikirim oleh adik laki-lakiku. Hanya ada satu kata disana: SOS.

Itu artinya ia memintaku menghubunginya saat itu juga.

Halo,” sebuah suara serak remaja menyapa telingaku, saat aku meletakkan ponsel di telinga, “Kak?”

Aku mendesah sebelum menjawab. “Memangnya siapa lagi?”

Dapat kudengar, Mars, adikku yang baru duduk di bangku sekolah menengah pertama, menghela nafas lega. “Aku butuh bantuan.”

Seperti kau menghubungiku kalau tidak ada saja.

“Hmmmm,” aku bergumam pelan, seakan-akan ini baru pertama kalinya ia menghubungiku untuk alasan itu. Seorang teman menepuk bahuku pelan untuk menyapaku dan aku membalasnya dengan mengangkat sebelah tangan. Dapat kulihat koridor tempatku berdiri sekarang sudah sepi oleh siswa, sebentar lagi waktu istirahat selesai. “Jadi ada apa?” Desakku.

“Kau tahu, eh, arsip yang dibutuhkan, uhm, untuk…”

Kuhentakkan kakiku dengan tak sabar. “Bisa cepat tidak?!”

“Ck,” Mars berdecak. “Tidak sabaran sekali.”

“Pelajaran setelah ini diajar oleh Bu Bunga, aku tidak mau terlambat masuk ke kelas,” gumamku sebagai wujud pembelaanku.

“Ah, guru yang katamu temperamental itu—“

“Mars, please,” potongku. “Jadi ada apa dengan arsip sekolahmu?”

“Aku harus menyerahkannya paling kambat waktu pulang sekolah nanti. Dan kau tahulah, aku pasti akan terlambat…” Mars menggantungkan kalimatnya.

“Lalu apa hubungannya denganku?” Tanyaku gusar. Ayolah, koridor di depanku sudah kosong melompong seperti ini dan aku masih saja direcoki oleh permintaan tidak jelas adikku yang bodoh ini.

“Jadi, bisa gantikan aku menunggui nenek di rumah sakit?” Pinta Mars pada akhirnya.

Aku memutar mataku. “Bocah bodoh, hal begitu saja kau—“

Tunggu.

“Rumah sakit, katamu?” Aku mengulang keterangan tempat yang diucapkannya.

“Hm.”

Tanpa sadar aku melompat kegirangan. Kemudian aku teringat bahwa aku masih terhubung dengan Mars dan aku berusaha menyembunyikan kegiranganku dengan bertanya,  “Memangnya nenek kenapa?”

“Angin duduk.”

“Oh.” Kini tubuhku mulai bergoyang tanpa irama saking girangnya.

“Hanya perasaanku atau kau memang terdengar senang?”  Tuding Mars tiba-tiba, seketika aku membeku.

Memangnya sejelas itu ya kedengarannya?

“Aku tidak mungkin kan senang kalau nenekku masuk rumah sakit karena—apa tadi katamu? Angin duduk?—ya, angin duduk,” Sanggahku segera, berusaha terdengar setenang mungkin. “Benar kan?”

Mars sepertinya tidak mempercayai kata-kataku semudah itu, ia diam beberapa saat sebelum akhirnya berkata “terserah lah” dan memutuskan sambungan. Tak ada ucapan “dadah” atau “sampai jumpa” atau “maaf merepotkan” yang terdengar dari mulutnya, kusadari sifatnya yang satu itu benar-benar mirip denganku.

Dengan senyum terkembang di wajah, aku menutup flap ponselku yang sudah memanas. Ketika aku menoleh ke arah koridor, aku dapat melihat seorang guru wanita dengan seragam dinas dan sepatu stiletto hitam yang haknya sangat tinggi kalau menurutku.

“Oh, shoot,” Rutukku sambil berjalan—setengah berlari—kearah kelas. “Bunga is coming right away.

***

Biar kuberitahu kau yang sebenarnya. Aku bukannya tidak berperasaan karena senang mendengar nenekku masuk rumah sakit atau apapun itu. Kalau kau melihat lebih cermat lagi di setting sebelumnya, yang membuatku kaget hanyalah tempat nenekku diinapkan, bukan tokoh yang diinapkan disana.

Benar. Aku suka rumah sakit.

Kenapa?

Karena rumah sakit itu cenderung tenang, cocok untuk menenangkan diriku yang terkadang merasa lelah baik secara mental atau fisik yang disebabkan oleh kepercayaan guru dan teman-temanku yang berlebihan padaku sehingga aku harus selalu berusaha untuk menjadi yang mereka inginkan. Sebenarnya aku bisa saja memilih perpustakaan atau bahkan kuburan yang lebih sepi untuk menenangkan diriku. Tapi, ayolah, apa tidak bisa kau simpan pertanyaan itu untuk dirimu sendiri? Apa salahnya sih kalau aku menyukai tempat dimana banyak orang sakitnya?

“Sialan si Mars itu,” gerutuku sambil menjelajahi lorong-lorong rumah sakit yang berwarna putih pucat. “Kenapa dia tidak memberitahuku nomor kamarnya sih?”

Aku berjalan sedikit lagi seraya membaca tanda apapun yang tertera di dindiing di sekitarku, berharap ada tanda-tanda khusus yang menunjukkan bahwa nenekku berada di dalam salah satu kamar itu, tidur tengkurap dengan tidak berdaya karena tidak bisa mnegeluarkan angin dari lubang yang seharusnya.

Aku sudah mencoba menghubungi Mars dengan segala cara yang dapat aku lakukan saat ini; mulai dari mencoba menghubungi ponselnya seperti pacar yang tidak dijemput pada malam minggu, atau mengiriminya pesan singkat berkali-kali seperti juragan pulsa, aku bahkan menghubungi temannya! Tapi tidak ada yang tahu dimana bocah bodoh itu berada.

Tentu saja pergi main bodooooh, umpatku dalam hati. Kenapa juga saat itu aku percaya pada omong kosongnya tentang  arsip maha penting itu? Seharusnya langsung aku tanya saja wali kelasnya, mengingat aku juga alumni dari sekolah yang sama.

Aku baru saja akan bertanya pada resepsionis—ide bagus yang baru saja terpikirkan olehku—ketika aku menabrak sesuatu di depanku. Aku mendengar sesuatu jatuh dan merasakan bokongku menghantam lantai, disusul dengan suara ‘aduh’ pelan dari mulutku.

“Tidak apa-apa?”

Aku membuka mataku, seorang cowok dengan rambut kecoklatan tidak wajar yang mengenakan jaket hitam dan jeans berdiri di hadapanku. Jelas bahwa dialah yang tadi aku tabrak, dan sekarang ia sedang mengulurkan tangan kanannya padaku, menawarkan bantuan.

“Coklat,” ucapku tanpa berpikir, tidak menghiraukan uluran tangannya yang menggantung dengan bodoh di udara kosong. Mataku terpaku pada rambutnya.

Pemuda itu sepertinya menyadari bahwa yang aku sedang membicarakan rambutnya, tangannya yang bebas menarik ujung rambutnya yang berwarna coklat itu dengan canggung. “Ini bukan warna yang sebenarnya, kau tahu. Aku mengecatnya,” ia menjelaskan tanpa ditanya. Kemudian mungkin ia ingat bahwa aku masih dalam keadaan yang sama sejak terjatuh tadi, ia melanjutkan. “Jadi mau dibantu berdiri atau tidak?”

Aku tersentak sadar mendengar pertanyaannya. Aku meraih tangannya dan ia menarikku kembali beridiri. Saat itulah aku menyadari banyak bungkus obat yang berserakan di permukaan lantai.

“Obatmu?” Aku bertanya sambil menunjuk salah satu bungkus obat yang paling dekat dengan kakiku, menoleh pada pemuda itu.

Pemuda berambut coklat itu membungkuk seraya memunguti obat-obat itu, “Memangnya punya siapa lagi?” Tanyanya, mungkin kesal dengan ketidak tanggapanku terhadapan keadaan.

Merasa bersalah, aku ikut membungkuk dan mulai memungut-munguti obat yang beserakan.

Ya ampun, ini seperti kejadian di opera sabun saja, pikirku malu. Hanya saja ini berlipat-lipat lebih memalukan dan aku tidak bertemu dengan pemuda romantis nan gentle  yang akan menggendongku bak putri kerajaan sambil bertanya apakah aku baik-baik saja…

“Kalau sudah selesai mengambil cepat berikan padaku,” terdengar suara memerintah dan aku mengerjap, kembali tersadar. Cuma perasaanku atau memang aku sering sekali melamun hari ini?

Aku menoleh dan menyerahkan obat-obatan yang ada di tanganku ke tangannya, berusaha untuk tidak menunjukkan wajah masam; bagaimanapun juga obat-obat itu jatuh juga karena salahku.

“Maaf,” gumamku setengah tulus, kemudian tatapanku jatuh pada salah satu bungkus obat. “Ini obat milik kakekmu ya?” Pertanyaan itu keluar begitu saja.

“Hah?”

“Obat-obat ini mirip seperti obat-obat yang sering diminum nenekku untuk meredakan sakitnya,” jelasku. Kini aku benar-benar memusatkan perhatian pada bungkus-bungkus obat yang ada di pelukan pemuda itu, dan menyadari bahwa aku mengenal kegunaan setengah dari semua jenis obat itu. “Mereka sakit apa?”

Alih-alih menerima jawaban dari pemuda berambut coklat aneh itu, aku malah menerima hardikan kasar yang tidak aku sangka. “Bisa tidak sih simpan pertanyaanmu untuk dirimu sendiri? Telingaku sakit mendengar suaramu.”

Aku terbelalak mendengar kalimatnya. Ralat, bukan hanya warna rambutnya saja yang aneh, ternyata sikapnya lebih aneh lagi.

“Maaf kalau pertanyaanku tadi menyinggung perasaanmu atau apapun itu,” kataku, menyerahkan kembali bungkus obat yang tadinya kupegang. “Tapi tidak perlu marah seperti itu kan?”

“Aku tidak marah,” katanya, tapi nadanya tidak menyatakan demikian.

Aku menaikkan sebelah alisku; salah satu kemampuan yang mampu kubanggakan. “Oh, jadi ada apa dengan raut muka “aku-ingin-memukulmu-sekali-saja” itu?” Tantangku. Aku kesal dan lelah berjalan mengelilingi rumah sakit ini, jadi sepertinya mengajak rebut orang lain tidaklah terdengar terlalu buruk bagiku. Apa lagi jika yang kuladeni adalah orang macam ini.

Kini ganti pemuda itu yang terbelalak. “Aku tidak memukul perempuan,” ia berucap pada akhirnya, disusul oleh satu helaan nafas panjang.

“Munafik,” balasku. Eh? Tunggu. Apa biasanya aku memang se-tidak sopan ini pada orang yang baru aku tabrak?

“Dengar gadis tidak tahu sopan santun, apa sikapmu selalu begini kepada setiap orang yang kau tabrak?”

“Tidak,” jawabku. “Aku hanya begini pada orang yang tidak bisa membuktikan bahwa dirinya tahu sopan santun lebih baik daripada aku.”

Jika kami sedang berada dalam komik, pasti kami sedang berada dalam kolom dimana kedua tokohnya saling menatap yang disambungkan dengan gambar petir. Kami bertatapan cukup lama, sampai ia memutuskan kontak dengan berbalik dan berjalan pergi.

“Percakapan ini mulai terdengar kekanak-kanakan.” Aku dapat mendengarnya bergumam, lebih pada dirinya sendiri.

Kekanak-kanakan katanya?! Memang menurutnya siapa yang bersikap tidak sopan lebih dulu?!

Aku baru membuka mulutku untuk meneriakinya dengan umpatan paling kasar yang aku tahu—sama sekali lupa bahwa kami sedang berada di rumah sakit— ketika pemuda itu berhenti dan kembali menatapku.

“Kamar nomor berapa yang kau cari?” Tanyanya dengan wajah datar.

Apa?

Sepertinya tanpa sadar aku telah menyuarakan apa yang kupikirkan, karena kemudian ia mengulangi kalimatnya.

“Aku tanya, kamar nomor berapa yang kau cari?” Ulangnya, kemudian mungkin ia juga sadar bahwa aku memasang tampang bodoh di wajahku sehingga ia melanjutkan. “Kau yang berjalan mondar-mandir di depan apotek dari tadi merusak pemandangan, tahu tidak?”

Kalimat lanjutannya berhasil membuatku menelan kembali tampang bodohku dan menggantinya dengan tatapan garang, yang kemudian berganti lagi dengan raut wajah berusaha tenang setelah pikiran bahwa “dia hanya berusaha membantu” muncul dalam benakku.

“Tidak tahu,” aku bergumam pelan. “Aku tidak tahu nomornya.”

Pemuda itu memandangku dengan tatapan sejenis tatapan kau-pasti-bercanda. “Lalu siapa yang kau cari disini?”

“Eh…Kau tahu Nyonya Silwan Suharso?”

Aku tidak benar-benar berharap ia mengetahui nama nenekku dan mengenalnya atau apa, bagaimanapun juga nenekku bukan mantan artis yang sudah pension sehingga semua orang pasti mengenalnya. Namun ternyata yang membuatku kaget adalah karena pemuda itu mengangguk mengerti.

“Oh, Bu Silwan,” katanya, kemudian menunjuk salah satu lorong dengan menggunakan dagunya. “Ayo ikut aku.”

Dengan ragu-ragu aku mengikutinya, entah kenapa tetap berusaha menjaga jarak aman antara dirinya dan aku. Kami melewati banyak kamar dan beberapa lorong yang tadi aku lewatkan begitu saja. Kami melewatkan perjalanan itu dalam diam, aku yang terlalu malas untuk mencari topik dan mungkin pemuda itu juga berpikir sama sepertiku. Akhirnya ia berhenti di depan sebuah pintu bertuliskan 203, dan aku ikut menghentikan langkahku.

“Bu Silwan, kan?” Tanyanya memastikan.

Aku mengangguk.

“Yang kena angin duduk?”

“Ya ampun, bisa tolong tidak mengatakannya keras-keras?” Pintaku, membenamkan wajah pada kedua telapak tanganku. “Entah kenapa aku malu mendengarnya.”

Ia hanya mengangkat bahunya cuek tapi tidak bertanya apapun lagi. Ia mengulurkan tangan dan mengetuk pintu tiga kali.

Beberapa saat kemudian terdengar bunyi kunci diputar dan pintu pun terbuka, menampilan profil nenekku yang ringkih di luar namun perkasa di dalam. Tatapannya jatuh pada pemuda di sebelahku terlebih dulu.

“Langit?” Tanyanya heran, dalam hati aku mencatat bahwa pemuda kurang ajar ini punya nama, Langit.

“Siang, Tan,” Sapa pemuda berambut coklat—Langit—pada nenekku.

Aku mengerutkan alis mendengar sapaannya. “Tan”? Ia memanggil nenekku “Tan”? Maksudnya “Tante”?!

Sebelum aku sempat mengatakan apapun untuk merespon bentuk panggilannya kepada nenekku itu, Langit sudah menggedikkan kepalanya ke arahku. “Ini cucumu?”

Dan barulah sepertinya nenekku menyadari bahwa aku berdiri di sebelah Langit. “Matahari?” Reaksinya sama persis dengan reaksi yang diberikannya kepada Langit.

“Hai, Nek,” Aku menyapanya dengan senyuman terbaik yang aku punya, seperti yang aku lakukan pada orang lain. “Mars, tidak bisa datang karena, eh, ada arsip yang perlu dilengkapinya. Jadi, tidak keberatan jika aku yang menjaga nenek?”

Nenekku memandangku dengan tatapan aneh, yang membuatku berpikir bahwa aku telah salah memilih kata, sebelum akhirnya tertawa. “Tentu saja aku tidak keberatan! Tidak masuk akal ,kan, jka seorang nenek menolak ditemani cucunya sendiri.”

Aku menghela nafas lega. Aku mendengar suara pintu terbuka dan tertutup di sebelahku dan ketika aku menoleh, aku mendapati bahwa pemuda Langit itu telah tidak ada.

“Eh…” Dengan ragu aku membuka suara sambil memasuki kamar inap nenekku. “Pemuda tadi, apa kamarnya di sebelah?”

“Langit, maksudmu?”

Aku mengangguk.

“Yah, begitulah. Kau harus akrab dengannya, ya. Bagaimanapun dia pria baik yang mau mengantarmu kemari.”

Ya ampun.

Ternyata pemuda aneh nan tidak sopan yang baru saja kuhardik dan nyaris kumaki-maki kamarnya ada di sebelah kamar nenekku. Dan nyonya tua ini baru saja memintaku berakrab-akrab dengannya?

Aku tidak bisa menahan diri untuk mengerang.

“Matahari, kau baik-baik saja?”

______________________________________________________

A/N : Well, em, ingat waktu kubilang aku akan mem-post corat-coret isengku? Nah, kutepati kata-kataku. Awalnya aku tidak benar-benar ingin mempublikasikannya via blog, aku bahkan tidak memikirkannya sama sekali. Tapi kemudian kupikir “tidak ada salahnya, kan?” Jadi disinilah ia, terpampang di depan matamu berharap dibaca dan ditanggapi. Lagi pula, bohong namanya kalau seorang penulis tidak berharap tulisannya dibaca. Critique? Like it? Lat me know by comment this post ;]

-Hisanik H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s