A Heart Made From Glass 2

2nd thing: A Knight to Protect My Crown

“Matahari, apa kau membawa barang yang tadi dititipkan ibumu?”

Aku baru saja meletakkan tas sekolahku di kursi di sebelah tempat tidur nenekku ketika nyonya tua itu bertanya.

Aku mengangguk dan merogoh ke dalam tas. “Aku heran kenapa benda seperti ini harus dibawa secara sembunyi-sembunyi seperti ini,” komentarku, sambil mengeluarkan sebungkus kecil biskuit coklat dari dalam tas.

Nenekku, yang sedang mengganti channel televise untuk mencari acara gossip favoritnya, menjawab tanpa memandangku. “Seharusnya memang tidak perlu. Tapi seseorang di kamar sebelah merasa begitu paranoid sehingga menyuruhku membawa makanan itu kesini tanpa ketahuan.”

“Oh,” Aku bergumam sambil lalu, kemudian menyadari sesuatu yang ganjil dalam kalimat nenekku. “”Seseorang di kamar sebelah”?”

“Iya, kamar yang ditempati Langit. Ingat pemuda yang mengantarmu kesini kemar—hei, siapa yang menyuruhmu meletakkan makanan itu disana?”

Aku memandang wanita tua itu tidak mengerti. “Jadi harus aku letakkan dimana?”

Nenekku membalas tatapanku dengan tatapan seolah aku baru saja bertanya hal paling bodoh era ini. “Tentu saja kau harus membawanya ke sebelah.”

Hah?

“Kenapa bukan nenek saja?” Adalah respon yang otomatis keluar dari mulutku.

“Kau tega membiarkan nenekmu yang sakit ini berjalan jauh untuk menyerahkan titipan itu?” Hardik nenekku langsung. “Lagi pula kenapa kau menghindari untuk bertemu Langit, sih? Sudah untung dia mau mengantarmu ke kamarku, dia juga menanyakanmu kemarin, itu bukti bahwa ia perhatian kan? Apa kurangnya pemuda itu? Ia tampan, ramah perhatian, lalu…”

“Iya, iya” aku bergumam muram, berjalan ke arah pintu dengan sebungkus biskuit coklat di tangan.

***

Ini tidak akan seburuk yang kupikirkan, ‘kan?

Aku menatap pintu bertuliskan nomor 202 di hadapanku. Aku sudah beridir disana, kira-kira, selama semenit penuh. Tidak melakukan apapun, hanya berdiri di sana seperti orang bodoh.

Aku tidak mungkin dibenci, kan? Kemarin aku hanya menabraknya, menjatuhkan bawaannya, mengatakannya “munafik”, dan baru saja akan memakinya.

“Sudahlah, pokoknya hadapi saja,” aku berkata pada diriku sendiri, mengulurkan tangan dan mengetuk pintu. “Itu urusannya kalau ia mau membentakku, memakiku, mengutukku, atau—“

“Masuk saja.” Terdengar suara dari dalam. Suara yang langsung aku kenali sebagai suara Langit.

Tanpa sadar aku menelan ludah dan memutar gerendel pintu.

Pemandangan yang kulihat tidak jauh berbeda seperti yang aku bayangkan, hanya ada satu pengecualian.

Ketika aku masuk ke dalam ruangan itu aku dapat melihat profil tinggi tegap yang sedang berdiri di depan meja coklat seperti yang ada di kamar nenekku. Itu Langit, dan dapat kulihat di tangannya terdapat beberapa butir obat berwarna-warni dan bungkus-bungkus obat kosong di atas meja. Butir-butir obat itu hanya berjarak beberapa senti dari mulutnya.

“Obat kemarin bukanlah obat kakekmu,” kataku tanpa sadar. “Itu obatmu.”

“Ah.” Langit menurunkan tangannya, mengurungkan niat awalnya untuk meminum obat itu. “Gadis tidak sopan yang kemarin.”

“Aku punya nama,” gerutuku, menutup pintu di belakang dan melangkah masuk, berjalan ke arah dimana Langit berdiri.

Langit mengalihkan pandangannya dariku ke obat di tangannya, seakan-akan sedang menimbang-nimbang apakah sebaiknya ia meminum obat itu atau tidak, sebelum akhirnya memasukkan butir-butir zat itu ke dalam mulutnya.

“Aku tahu,” ia berkata setelah menghabiskan segelas air putih yang sudah disiapkan di atas meja. “Matahari.”

Aku, tidak menyangka bahwa pemuda di hadapanku ini baru saja meminum sekelompok obat yang seharusnya diminum nenekku itu, hanya memandangnya tanpa mengatakan apapun. Mendadak aku dipenuhi rasa bersalah.

Tidak menyadari kebisuanku, Langit melanjutkan. “Ngomong-ngomong, kenapa kau kemari?”

Aku mengerjap dan meletakkan sebungkus biskuit coklat yang tadi kubawa. “Kupikir kau meminta nenekku untuk membawakan benda ini untukmu secara diam-diam?”

Well, yeah. Aku hanya bilang seandainya ia sempat membelinya, mungkin aku boleh titip satu atau dua barang untuk dibawakan,” Jelas Langit. “Aku tidak sungguh-sungguh waktu berkata aku minta dibawakan secepatnya.”

Terdengar suara tawa anak-anak dari luar dan aku melihat bahwa jendela di kamar itu menampilkan pemandangan taman belakang rumah sakit. Tanpa sadar aku melangkah ke arah jendela itu. “Beruntung sekali kau dapat pemandangan yang bagus,” komentarku. “Walaupun kamar nenekku ada di sebelah, yang dapat kulihat hanya gedung lain yang memang dibangun bersebelahan dengan gedung ini.”

Secara perlahan aku menempelkan ujung-ujung jariku pada permukaan kaca. Kacanya terasa dingin. Baru saja aku akan menempelkan pipiku padanya ketika aku mendengar suara Langit.

“Yah, bagaimanapun juga aku sudah cukup lama mendekam di kamar rumah sakit ini. Wajar, kan, jika aku meminta pemandangan bagus agar aku tidak mati bosan di dalam sini.”

Sontak aku menjauhkan tanganku dari kaca dan menoleh ke arah Langit. Mendadak teringat insiden “obat kakek” yang diminumnya itu. Langit yang sekarang sedang duduk di atas kasur pasien sambil memperhatikan bungkus biskuit itu dengan penuh minat tidak menyadari apapun sampai aku membuka suara.

“Maaf,” gumamku pelan. Aku tidak begitu yakin apakah sebenarnya aku ingin permintaan maafku di dengar olehnya atau tidak. Egoku masih teramat tinggi untuk meminta maaf kepada cowok macam Langit.

Langit mengangkat wajahnya dan memandang ke arahku. “Bisa diulangi?” Pintanya. “Aku tidak dengar.”

Aku dapat merasakan pipiku memanas. Mengatakannya sekali saja sudah memalukan dan dia memintaku mengataknnya lagi?! Pikirku geram, dia pasti mempermainkanku…

“Aku minta maaf,” ulangku, kali ini lebih keras. Kukepalkan kedua tanganku agar mereka tidak merangsek ke depan dan menghantam wajah Langit yang sedang tersenyum penuh kemenangan saat mendengarnya.

“Kenapa kau meminta maaf padaku?” Tanya Langit beberapa saat kemudian.

Dengan wajah bingung aku menjawab pertanyaannya. Memangnya ia lupa apa yang sudah kulakukan padanya? “Karena aku menabrakmu, lalu berkata tidak sopan padamu, dan,” jeda sesaat, aku dapat merasakan pipiku terasa lebih panas daripada sebelumnya. Kupalingkan wajahku dari tatapan Langit.  “Dan karena aku telah mengatakan bahwa obatmu adalah obat kakekmu.”

Perlahan aku kembali memandang Langit, dan mendapati pemuda itu sedang memandangku dengan tatapan geli.

“Kenapa?” Tanyaku spontan, tanpa sadar menggunakan nada menantang yang langsung kusesali saat itu juga.

Mendengar kalimatku, Langit malah terkekeh yang berlanjut menjadi tawa. Aku memperhatikannya dengan was-was, menunggu apa yang akan dikatakannya.

“Kuterima maafmu, Matahari,” ucapnya setelah tawanya agak mereda. “Tapi menurutku permintaan maafmu tidak perlu.”

Hah?

Look, semua orang pasti pernah menabrak sesuatu seumur hidupnya. Dan soal maki-makian itu, well, katakanlah, kau sedang lelah. Atau kesal. Atau keduanya.”

Perlu kukatakan ia pintar menebak.

“Lalu perkara obat itu,” lanjut Langit, refleks aku menegakkan tubuhku dengan sikap waspada. “Bukan masalah besar.”

Aku tidak bisa menahan untuk tidak berkata “apa”. Karena bagaimanapun juga, jika aku bertukar posisi dengannya, aku pasti akan menghajar orang yang mengira obat yang kuminum adalah obat milik seseorang yang seharusnya berumur sepuluh kali umurku.

Mungkin  agaknya Langit menikmati kekagetanku. Dengan santai ia merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum. “Wajar jika kau mengira bahwa itu adalah obat kakekku,” katanya, ia menggerak-gerakkan tangannya, merajuk pada dirinya secara keseluruhan. “Aku memang tidak terlihat seperti orang sakit kan?”

Kuperhatikan Langit yang masih duduk di atas tempat tidur. Jika beberapa hari yang lalu ia mengenakan kaus polo berwarna putih serta celana kanvas krem, hari ini ia diselimuti oleh warna biru muda—kemeja yang lengannya dilipat sampai siku juga celana jeans, warna langit. Wajah Langit yang penuh senyum tidak terlihat pucat ataupun kuyu, aku bahkan masih dapat melihat rona ceria di kedua pipinya. Rambut pendek-coklat-aneh miliknya cukup tebal dan terlihat terawat, berbanding terbalik dengan rambut ikalku.

“Tidak,” ucapku pada akhirnya. “Sama sekali tidak.”

Kembali senyum menghiasi wajah Langit saat ia membuka bungkus biskuit yang kubawakan tadi. “Kau tidak kembali ke kamar sebelah?” Tanyanya selagi ia memasukkan satu atau dua biskuit sekaligus ke dalam mulutnya. AKu tidak dapat menghentikan diriku sendiri untuk berpikir bahwa ia terlihat seperti anak kecil yang baru pertama kali makan produk itu.

“Baiklah, baiklah. Aku kembali,” desahku, mengatur raut wajahku sedemikian rupa agar wajahku terlihat memelas.

Baru saja aku  akan membuka pintu saat aku mendengar Langit bicara. “Padahal aku baru saja akan mengajakmu bermain.”

Kalau saja aku sedang berada dalam komik, pasti disana tergambar telingaku yang sedang berdiri saat mendengar kata “bermain.”

“Bermain?” Ulangku seraya berjalan kembali ke arah tempat tidur, mengurungkan niatku untuk kembali ke kamar nenekku. “Permainan apa?”

“Kau tidak jadi kembali ke kamar sebelah?” Tanya Langit lagi. Dapat kulihat ia puas ketika melihat raut penasaranku. Perlu kucatat dalam hati, selain pandai menebak, ia juga pandai memancing orang lain.

Aku berhenti di sisi tempat tidur. “Kalau boleh jujur mungkin disana aku hanya akan jadi pajangan hidup nenekku. Aku yakin sekarang beliau sedang menonton acara gossip atau bahkan memang sedang bergosip dengan teman-teman arisannya via telepon.”

“Teman arisan Tante Silwan?” Kalimat ini sepertinya terdengar lucu di telinga Langit. Ia menepuk-nepuk permukaan tempat tidur di sisinya, menyuruhku duduk.

“Begitulah, jadi ayo kita kembali ke topik,” ujarku, duduk di tempat yang ditunjuk oleh Langit. “Permainan apa yang akan kita mainkan?”

“Kau kelihatannya benar-benar menghargai waktu ya.”

“Aku percaya bahwa waktu adalah uang.” Aku mencomot satu biskuit dan memasukkannya ke dalam mulut. “Semakin aku menghemat waktu, semakin kaya aku jadinya.”

“Matre.”

“Itu salah satu cara bertahan hidup yang paling mudah dilakukan oleh wanita.”

Untuk kedua kalinya hari itu Langit memandangku dengan tatapan anehnya. Kupikir ia akan kembali tertawa seperti biasa, namun kali ini ia hanya berkomentar. “Kau terlihat bersemangat.”

“Aku suka bermain,” akuku. “Apalagi yang selalu dapat kumenangkan.”

“Sayang sekali mungkin permainan ini tidak berhubungan dengan menang dan kalah, kalau begitu.”

“Memangnya kita akan bermain apa?”

Langit menunjukkan senyum menantangnya ke arahku. “Kita akan bermain peran.”

***

Apa tidak bisa lebih bodoh lagi?

“Nah, sekarang kau tidak terlihat begitu bersemangat,” kata Langit, mungkin memahami gerakan rahangku yang terbuka dan alis yang bertaut.

Aku merasa bersemangat dan senang seperti anak kecil, lalu ternyata dikecewakan oleh jenis permainannya. Sebodoh apa aku menurutmu, hah? Aku memang suka bermain, tapi bukan jenis yang tidak ada menang-kalahnya seperti ini. Aku suka kemenangan, tapi dalam bermain peran, mana bisa kita menyebutkan mana yang kalah atau yang menang?

“Aku tidak tahu sebosan apa kau berada disini,” ujarku, beranjak berdiri. Semangatku untuk bermain dengannya habis sudah. “Tapi aku tidak suka bermain peran.”

“Kenapa?”

“Aku juga tidak tahu,” jawabku setelah beberapa saat. “Tapi kita kan tidak mungkin hanya bermain berdua.”

“Tidak ada yang tidak mungkin,” timpal Langit yakin. “Lagipula permainan ini punya beberapa peraturan.”

Aku beridir di tempatku, menunggu ia melanjutkan.

“Pertama, kita hanya bisa bermain di areal rumah sakit ini saja.”

Yah, bisa diterima. Mengingat Langit memang hanya bisa berkeliaran bebas di rumah sakit ini.

“Kedua, dilarang memberitahu orang tentang permainan kita.”

“Kenapa?”

“Karena tidak akan menjadi menyenangkan lagi.”

“Lalu kalau seseorang mengetahuinya? Game over?

“Memang permainan tidak akan selesai begitu saja,” gumam Langit, rautnya seperti seorang pemikir saat mengatakannya. “Tapi permainan tidak akan menjadi semenyenangkan yang sebelumnya.”

Sebenarnya aku ingin mempertanyakan dimana senangnya bermain peran tanpa diketahui orang lain, tapi kuurungkan niat itu dan berkata, “Aturan ketiga?”

“Aturan terakhir,” lanjut Langit. “Kita boleh memilih peran apa yang ingin kita mainkan. Tapi sekali kita memilih, kita tidak boleh menukarnya dengan peran lain.”

“Hanya itu?” Tanyaku. Permainannya memang tidak terilhat menggiurkan, namun perlu kuakui peraturannya cukup menarik.

“Bagaimana menurutmu?” Tanya Langit.

Aku mengerucutkan bibirku, hal yang selalu kulakukan tanpa sadar ketika berpikir. Beberapa saat kemudian kudapati diriku sedang mengucapkan hal yang akan mengubah kehidupan penuh kebohongan yang selama ini kujalani.

“Aku ingin menjadi seorang putri dari kerajaan entah berantah yang punya segala-galanya. Aku manja dan selalu ingin diperhatikan, tentu saja aku juga ingin semua keinginanku dipenuhi. Aku juga tidak suka dibantah atau saat aku bicara, aku tidak suka di potong,” Aku berhenti bicara saat tatapanku jatuh pada Langit yang sedang memandangku dengan senyum di wajahnya(memang kapan sih pemuda ini tidak tersenyum?). “Ada yang salah?” Tanyaku ragu.

Langit menggeleng sambil terkekeh pelan. “Aku hanya tidak menyangka aku telah memilih peranmu dengan begini cepat.”

“Lalu kau? Apa peran yang kau pilih?”

“Peranku? Hm…” Langit bergumam pelan, kemudian tangannya terjulur dan meraih tanganku, memerangkapnya di dalam rangkaian jemarinya yang besar.

“Apa yang—“

Dengan cepat Langit memotong kalimatku. “Kalau kau menjadi putri, berarti aku akan menjadi ksatriamu.”

Aku masih memandanginya karena ketenangan dalam kalimatnya, juga gerakannya yang menurutku tiba-tiba.

Mata Langit memandangku tepat di manik mata, dan aku dapat melihat ada kesungguhan dan kepercayaan diri yang besar di matanya.

“Aku siap mengabdi padamu seumur hidupku,” ujarnya pasti, bulu kudukku meremang mendengar suara tegasnya. “Putri Matahari.”

Dan aku pun terseret dalam permainan peran ini.

__________________________________________________________________

A/N : Jadi, inilah bagian kedua dari corat-coret iseng (yang tanpa sadar kukerjakan dengan sepenuh hati) yang akhirnya selesai kutulis tadi malam. Kupikir ini mulai berjalan baik. Rasanya menyenangkan sekali saat menulisnya, jadi kuharap kau juga menikmatinya sama sepertiku🙂

Oh ya, mungkin aku harus membuat Langit menjadi lebih sedikit tersenyum setelah akhirnya kusadari pemuda itu sering sekali nyengir. Berpikiran sama denganku? Atau malah kau melihat kekurangan dalam tulisanku? Let me know by comment this post, would you? :]

-Hisanik H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s