Sometimes I Just Hate Myself

Biar kuberitahu padamu 3 hal yang dapat membuat kerutan di keningku bertambah:

1. Never ending Exams

2. A BIG pile of homework

3. A team to work with my BIG exam later

Yeah, life is a road (a very long one) when your hopes are (rarely) come true.

Penjelasan panjang dari tiga poin diatas adalah sebagai berikut: (klik “read more” untuk melihat bagaimana hariku yang membuatku ingin berteriak frustasi)

Never ending exams, huh? Aku tahu itu berlebihan. Aku yakin suatu hari rentetan ujian ini akan berakhir hanya saja aku tidak melihat dimana ujungnya. Ujianku kali ini berlangsung selama seminggu, benar-benar seminggu karena dilaksanakan selama tujuh hari (senin, selasa, rabu, kamis, jum’at sabtu…dan senin minggu depannya). Aku berpikir kenapa harus ada hari libur diantara hari-hari penuh LJK itu, that’s only make me want to end it sooner than its supposed to. Belum selesai sampai disana, dua hari terakhir, sabtu dan senin, lembaga pendidikan formal yang terdaftar di lembaga pemerintah (baca: SEKOLAH) yang aku datangi meng”hadiahkan” para muridnya 3 mata pelajaran di kedua hari itu. Dan mereka bilang kami tidak perlu khawatir mengenai ujian? USO =0=/

Ujian yang paling aku ingat adalah ujian sejarah. Benar, pelajaran yang tidak pernah melihat masa depan itu. Aku ingat bagaimana aku terbelalak melihat soal yang diberikan padaku dan pada saat yang sama merutuki otakku karena benda bulat berlendir (aku tidak yakin otakku bentuknya sepenuhnya bulat atau apakah ia berlendir atau tidak) itu sama sekali lupa dengan apa yang kubaca kurang dari lima menit yang lalu. Belum apa-apa kepalaku sudah pening. And guess what? Aku hanya bisa mengerjakan seperempat dari seperempat soal yang kujawab. Aku berani sumpah aku menangkupkan tanganku di atas meja dan berdo’a supaya waktu bisa kembali setidaknya 30 menit sehingga aku bisa membaca kembali catatanku. You knowit doesn’t work at all. Aku hanya mendapat pandangan aneh dari senior yang duduk di sebelahku. Memalukan jika aku mengingatnya lagi.

Auk tidak berani berpikir bagaimana rasanya menjadi senior kalau menjadi junior saja nasibku sudah begini menyedihkan. Kadang aku juga berpikir bagaimana para seniorku masih bisa hidup keesokan harinya setelah melihat jadwal ujian yang menanti mereka.

Dan masalah tugas…kupikir semua siswa beranggapan begitu mengenai tugas. Seriously, kalau masalah ini, aku sama sekali tidak bisa melihat ujungnya, dan parahnya aku tahu bahwa ini tidak akan berakhir.

Aku punya banyak deadline (and when i say “dead”, i mean it) di bulan ini, dan bulan depannya lagi. Begitu banyak sampai rasanya membuat list tentang deadline-deadline itupun percuma kalau aku selalu lupa untuk mengeceknya, apalagi mengerjakannya. Dan belum juga aku mengerjakan tugas-tugas itu, aku sudah harus membuat tugas lagi akibat nilai kognitif olahraga ku yang di bawah rata-rata. (P.E is done by moving our whole body, for God Sake! I’m not supposed to twist my brain to fulfill my score!)

Aku tidak tahu bagaimana ini bisa lebih buruk lagi.

Dan nasib mempermainkanku. Ternyata nasibku memang bisa lebih buruk lagi.

Semuanya dimulai beberapa minggu yang lalu, sebenarnya. Ketika guru seni budayaku (entah kenapa pelajaran seni budaya untuk freshmen sepertiku dinilai paling menyeramkan daripada pelajaran matematika, atau fisika, atau juga kimia) memberi kami tugas akhir. Mengubah sebuah tarian, tidak sepenuhnya memang, hanya sebagian. Seluruh kelas dibagi menjadi dua kelompok. Bisa membayangkan berapa anggota kelompokku? Benar. BANYAK.

Bisa membayangkan bagaimana repotnya berkoordinasi dengan sebegitu banyaknya orang? Benar, SULIT.

Perlu kuakui aku lebih cocok dengan one-on-one training, aku bisa menyesuaikan kecepatan berbicaraku (yang tanpa kusadari memang cepat) dengan partner kerjaku. Tapi aku benar-benar buruk dalam hal seperti ini. Yah, Teamwork.

Aku tahu bahwa setiap orang memiliki karakter berbeda, dan kepalaku makin pening kalau sudah mulai memikirkan bagaimana agar mereka bisa berkoordinasi dengan baik dan cepat. Boleh dibilang waktu kali tidak lagi banyak. Sering rasanya aku ingin membakar kalender rumahku dan menmpelkan magnet ladam sebesar betis ke jam tangan dan jan dindingku.

Di setiap kelompok, aku yakin, ada tipe orang yang santai. And that kind of people doesn’t work good with me. Ketika mereka dengan santai bercerita, bersenda gurau dan saling melempari satu sama lain dengan batako (ups), aku di sisi lain sedang kerepotan meyakinkan mereka agar kami kembali bekerja dengan proyek kami.

“I’m NOT a relax people, and I’m NOT happy with your talk. So, stop blabbering about nothing and come back to work at once!”

Rasanya aku ingin berkata begitu.

Hanya saja kupikir aku akan terlihat kasar dan tidak mengerti orang lain jika aku mengatakannya secara langsung, atau tidak langsung, sepertinya sama saja.

Jadi aku memendamnya dalam diriku sendiri dan memuntahkannya di blogku yang malang.

Mungkin aku mengerti, bahwa setiap orang berbeda, kekuranganku adalah tidak bisa men-gather semua jenis orang itu dalam satu kondisi dimana kami bisa mengerjakan tugas kami dan pada saat yang sama santai. Kenyataanya kalau kami tidak terlalu serius mengerjakan tugas sampai punggung kami pegal, maka kami akan bergurau terus-menerus sampai kami menyadari bahwa kami belum mengerjakan apa-apa.

Aku juga mengerti bahwa kalau menyangku tugas, aku ini sensitif (jika diajak bercanda) dan tempramental (saat candaannya tidak lucu dan malah menyebalkan. I end up blame everyone around me.

Sometimes i just hate myself for being that way to another. 

Sorry guys. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s