Some Words Left Unsaid

Ini bukan tanggal 13 tapi entah kenapa aku ingin mencari lapangan yang luas dan berteriak.

Aku tidak menemukan seekor burung gereja di sekitarku tapi aku merasa hariku lebih sial dari kemarin.

Aku bahkan tidak bertemu dengan seekor kucing hitam pun hari ini. Tidak seekorpun!

Tapi kenapa aku merasa sial begini?

Oke, just like the tags below said, its complicated

Aku tidak akan komplain mengenai semua remidi yang aku dapatkan, yang JELAS tidak kukatakan pada adikku, kakakku, apalagi kedua orang tuaku. Tapi toh nanti mereka akan tahu, saat mereka memegang lembar rapor sisipanku, saat dimana aku akan mempermalukan diriku sendiri.

Aku tidak akan menjelaskan satu per satu rincian tugas yang aku terima. Tidak satu pun. Aku hanya akan membuatmu yang membaca posting ini merasakan stress yang sama denganku.

Aku juga tidak akan berkeluh kesah about my tiny little problem with my sister. Yang jadi masalah bukan kecilnya, tapi dengan siapa aku membuat masalah. Percayalah, aku benci membuat masalah dengan orang lain.

Tapi hari ini mengerikan, setidaknya lebih buruk daripada kemarin. Aku tahu bahwa banyak orang di luar sana, selain aku, yang juga mengalami hal yang sama denganku. Atau mungkin lebih berat. Masalahnya, aku tidak tahu siapa orang-orang itu dan mungkin aku juga tidak mau mendengar keluh-kesah mereka. Aku hanya ingin tahu bahwa ada orang yang keinginannya untuk mencari lapangan terbuka sama besarnya denganku.

Kadang mungkin kita menyepelekannya, tapi kata-kata singkat seperti “maaf” atau “terima kasih” lebih baik diucapkan daripada tidak sama sekali. Semarah apapun kamu, sekesal apapun atau sedongkol apapun dirimu, at least say those word. Karena terkadang kita tidak berpikir bahwa hal-hal kecil seperti itu dapat menggerakkan hati seseorang.

Now I’m saying that thing like I’m a wise man. 

Kupikir inti dari postingan ini adalah hal ini: aku akan terus berjalan, aku masih punya banyak waktu (aku tinggal mengurangi kadar malas yang ada dikepalaku, seakan itu hal yang mudah untuk dilakukan), setidaknya aku sudah mengucapkan “maaf” dan “terima kasih”  pada kakakku, dan yang terpenting aku tidak akan mati karena masalah ini.

Thank you🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s