Hadiah Paling Indah ketika Bicara : Didengarkan.

Aku sesak.

Terperangkap dalam dinding monoton bernama “kelas”

Dengan gas pekat yang kuhirup layaknya oksigen bernama “ketidakpedulian”

Kucoba tenang dan aku dianggap angin lalu, masuk telinga kiri keluar telinga kanan

Kucoba mengeraskan suaraku, menarik semua perhatian di sekeliling padaku, tapi aku tercekik oleh tangan-tangan tak kasat mata yang membuat mataku berair.

 

Dadaku sakit.

Kuedarkan pandang ke sekeliling. Apa ini? Apa hanya aku yang merasa begini?

Aku mual, kerja kerasku dianggap apa?

Aku berjalan kearahmu dan kau memalingkan muka.

Kulapangkan dadaku unutk berlari-lari kecil dan memanggil namamu,

Tapi kau malah menutup kupingmu dengan mantra yang berbunyi “terserah”

 

Aku lelah.

Aku hanya manusia.

Aku tidak akan bilang “aku ingin semua ini berakhir,” tapi semua selalu kembali terjadi setiap saat aku menghirup udara.

Lagi dan lagi.

Sesuatu dalam diriku terkikis, tinggal menunggu untuk hancur berkeping-keping.

 

Aku tidak meminta, aku menghamba beberapa menit hidupmu

Bukan untuk mendengar celotehku

Tapi aku berharap aku bisa mengumpulkan semua orang dalam satu tempat dimana kita bisa saling mendengar

Menekan parasit bernama “cuek” dan mengaplikasi ilmu “menghargai”

 

Apa sulit? Merepotkan kah? Aku minta maaf, tapi aku cuma manusia.

Aku minta maaf.

 

Lagi-lagi sesuatu dalam diriku terkikis.

Aku tidak berani berpikir kapan akan hancur berkeping-keping.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s