1.678bytes/sec? What a wonderful world *tertawa miris*

Saat pertama kali aku membuat blog, sekitar…beberapa tahun yang lalu. Aku berpikir: nantinya blog-ku akan menjadi blog besar, yang terurus, dan mempunya 1000 pengunjung per hari. Benar-benar mimpi yang besar… *memandang kejauhan dengan mata menerawang*

Setelah jatuh dan bangun (yang disini berarti meninggalkan blog bertahun-tahun tanpa diurus kemudian membuat yang baru dengan harapan yang sama) aku baru sadar sesuatu. What is blog, exactly? Media sosial? Well, hampir benar. Tapi bukankah blog adalah tempat penulis dan pembaca berbagi apa yang mereka rasakan dan tahu? (<- dan sekarang kalimatku terbaca seperti aku adalah seorang pembuat pidato perpisahan kelas 12 yang ulung)

Sekarang aku hanya berharap agar blog ini dapat kuisi secara kontinyu. Karena akhir-akhir ini aku merasa membutuhkan kehidupan yang terjadwal.

Boring? Absolutely. Hanya saja sekarang hidupku hanya berisi beberapa hal: bangun, mandi, sarapan, lain-lain, makan siang, lain-lain, mandi, lain-lain tidur.

*Lain-lain: bermain persona 4 (haven’t finished it yet, i know.), membaca manga, menonton anime, gulat bersama adikku tersayang.

Ujianku sudah selesai, tolong tepuk tangannya. Semua pembayaran sudah dilakukan. Dan tinggal menunggu hasil. Aku melewati hariku dengan rutinitas yang telah kutulis di atas. Yang pertama terlihat menyenangkan sekali sampai akhirnya hari ini, saat ini, aku berpikir aku butuh kegiatan baru.

Dan aku mendapatkannya: mencemaskan pembagian hasil belajarku BESOK.

Aku ingat beberapa hari yang lalu, atau kemarin? Teman-temanku berkata dengan raut wajah (yang tidak berani aku simpulkan dibuat-buat atau tidak) bahwa mereka khawatir, terlampau khawatir dengan nilai mereka yang akan ada di rapot. Aku pikir: what’s the prob? Ujian sudah selesai, dan kalian tinggal menunggu. Nilai sudah selesai diolah dan kalian tinggal menerima dan melihat. Jadi dimana masalahnya?

Kalau mau khawatir bukannya seharusnya dilakukan sebelum kejadian, lalu lakukan yang terbaik pada saatnya. Bukannya sekarang kita tinggal menunggu hasil?

Hell, don’t mind, don’t think I do it either. I just write the thing I thought was right for me. Absolutely no offense. Dan apa-apan dengan Blockquote itu? -.-a

Pada saat itu aku hanya berpikir aku tinggal menunggu, mau bagaimana lagi? Kemudian, hari ini, beberapa saat yang lalu, mungkin saat aku hendak mengambil handukku, hal itu terpikirkan.

Bagaimana kalau yang terjadi adalah hal buruk?

Maaaaaaan, sekarang aku mengerti bagaimana perasaan teman-temanku.

Aku tahu khawatir bukan hal yang tepat dilakukan. Seharusnya aku banyak berdo’a, tidak berharap muluk-muluk, dan bersiap-siap untuk hal yang terburuk. But what can I do? We talk about instinct here. It can’t be helped.

Aku tidak punya maksud khusus dalam menulis post ini. Aku hanya ingin membacanya lagi, mungkin lain kali. Dan berkata: This post “talks” about me. Then its about the instinct.  

Heck. I’m screwed.

 Kemudian aku baru sadar 1 hal lagi: judul post ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan isinya. *sigh* Pada awalnya aku ingin mendeskripsikan batapa lambatnya modemku yang super-duper-sangat-lambat-sekali, dan bagaimana aku bertahan dengan alat itu. Ketika temanku denan bahagia menonton acarnya favorit mereka via streaming, aku ditikam mati oleh monster keji bernama buffering.

Mungkin kau pikir aku bercanda mengatakan 1.678bytes/sec. Tidak kawan, sungguh, aku serius. Dan kau pikir aku pasti bercanda ketika membaca betapa inginnya aku membagi hidupku yang “bahagia” dengan kalian. *wink*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s