Saat Ulangan Menjadi Pelengkap 4 Sehat 5 Sempurna…

Saat ulangan menjadi pelengkap 4 sehat 5 sempurna…Press the “SRESS” button.

Jangan khawatir, itu normal.

I have the tendency to write my blog when i have a small mountain of tasks and tests behind me.

Aku gila, nyaris. Sekolahku gila, mungkin. Guru-guruku yang menyebabkannya, aku yakin.

Hei, hentikan tatapan mencemoohmu itu, aku tahu kau memikirkan hal yang sama denganku.

Berikan aku waktu sebentar untuk memperjelas kalimatku di atas. Mungkin daftar kecil ini akan membantu.

3 Sept: Kuis biologi I babak 1

4 sept: Kuis biologi II babak 1

5 Sept: Ulangan kimia (menjawab yakin 28 soal dari 50)

6 Sept :Ulangan sejarah (dengan yakin menulis anak dari sedolepen adalah ANUSAPATI *menangis*)

7 sept: TUHAN MEMBERKATI, guru fisikaku yang mengajar dengan kecepatan 120 km/menit (dan mengira kami belajar dengan kecepatan yang sama) mengundur yang satu ini

8 sept: Ulangan matematika (andaikanlah begini: diberi tugas 1+1, di ulangan di beri soal setingkat olimpiade nasional)

10 sept: Ulangan bahasa Inggris

11 sept: satu-satunya hari kosong, mungkin. Seingatku hari ini guruku baru saja menambahkan satu tes lagi. Aku lupa, setengah tidak peduli.

12 Sept: Ulangan PKn tentang ilmu politik dan Ulangan biologi II babak 1 (super-wonder-double-pack)

13 Sept: Ulangan fisika oleh guru 120 km/menit ku.

Sekarang katakan padaku bagaimana bisa semua ini manusiawi.

Mungkin memang tidak, setidaknya saat ini. 10 tahun lagi aku akan mengagumi diriku sendiri yang sudah berhasil melewati babak yang padat ini.

Bicara soal ulangan. Guru itu punya berbagai macam jenis.

1. Tahu, tapi “tidak tahu”.

Guru jenis ini punya kesempatan untuk disukai para murid karena kemampuannya untuk bersabar dan memilih untuk diam walaupun ia tahu jari-jari muridnya sedang membentuk angka 24 di bawah meja, atau sedang mengetik terburu-buru daftar pertanyaan di blackberry meassanger-nya. Guru seperti ini menyenangkan, entah kenapa tidak pernah menjagaku saat aku menghadapi pelajaran neraka.

2. Mercusuar.

Ditakuti, namun dibicarakan di balik punggung sendiri 7×24 jam. Guru seperti ini biasanya tidak pernah menunduk. Men-scan seluruh sisi kelas sejak bel ulangan berbunyi. Bagi mereka yang belum pernah melakukan kecurangan kecil-kecilan yang sering mungkin akan merasa terintimidasi oleh guru semacam ini. Bukan berarti aku sering melakukannya.

3. Lihat, Tunjuk!

“Mbak yang disana, bisa tolong ulangannya dikerjakan sendiri?” Mungkin kita sering mendengar kalimat seperti ini saat ulangan. Guru pengawas jenis ini tidak seperti jenis kedua, namun justru karena ia tidak terlihat waspada, murid menjadi berpikir bahwa mereka bisa berbagi “hasil”. Eit, tunggu dulu. Justru jenis seperti inilah yang harus diwaspadai, walaupun jarang  mengamati, begitu sang guru mendongakkan kepalanya, minimal satu orang akan tertangkap basah. Dan akan langsung memberi peringatan I, dengan menyebut nama atau posisi. Jika kau memang tidak punya rasa malu, pengawas seperti ini bukan masalah.

4. Tegas-Lugas.

Yang seperti ini, sebaiknya jangan main-main. Bicaranya hanya sesekali, terkadang hanya menunduk sepanjang waktu ulangan, tapi begitu kena, pasti langsung diusir keluar ruangan. Bukan masalah besar sebenarnya kalau kau ingin mengikuti ulangan susulan, tapi aku tidak yakin apakah kupingmu cukup tebal untuk menerima omelan dari orang tuamu yang dipanggil, dan guru yang mengusirmu, dijadikan satu.

5. Duduk, diam, tertidur.

Hanya boleh dilakukan guru yang sudah sepuh, yang sudah lelah mengamati murid yang mengenakan seragam itu-itu saja selama masa mengajarnya. Tidak akan berceramah (sampai sekarang aku heran kenapa murid-murid tidak boleh ramai karena bisa menganggu temannya kalau pada kenyataannya guru pengawas lebih sering berceramah sehingga membuat muridnya tidak fokus) sepanjang Lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan selusin kali, hanya akan meletakkan jari telunjuk di depan bibir sambil berkata “Boleh, asal jangan berisik.” Dan setelah itu muridnya akan menggila.

Sebenarnya bukan maksudku untuk mencemooh para guru pengawas, mereka hanya melakukan tugasnya. Aku yang tidak pernah berdiri di posisi mereka tentu saja tidak akan mengerti, dan agaknya aku  tidak ingin berada di posisi itu.

Aku ini pengamat, dan aku mengamati.

Percaya atau tidak, sebenarnya guru merupakan salah satu topik paling diminati para penulis😉

One thought on “Saat Ulangan Menjadi Pelengkap 4 Sehat 5 Sempurna…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s