Catat Dalam Hati: Jaga Mulut

Aku mengepalkan tangan di atas pangkuanku, kepalaku pening dan udara terasa lebih panas daripada yang biasanya, “Kalau tidak bisa mengajar seharusnya tidak usah jadi guru,” gerutuku.

“Mau bagaimana lagi.” Aku berdecak kesal mendengar respon pasrah itu.

“Guru yang membuat muridnya tetap bodoh adalah guru gagal.”

“Hm…”

“Guru yang makan gaji buta.”

“Hei.”

“Apa?” Aku menyentaknya.

“Dia ini,” pemuda itu menunjuk pada seseorang yang duduk di hadapannya, murid yang seingatku satu tingkat di bawah kami. “…anak dari orang yang sedari tadi kamu maki-maki.”

“…Oh,” o-ow. “Kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku dari awal?”

“Kau tidak bertanya.”

“Boleh aku membunuhmu?”

Sebuah cengiran, lalu tawa. “Kau tidak akan percaya jika aku katakan betapa lucunya ekspresimu semenit yang lalu.”

3 thoughts on “Catat Dalam Hati: Jaga Mulut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s