A Heart Made From Glass 0

Prologue: The Invicible Love Letter To the Dear You

Sejak dulu aku sering tertawa, bukan salahku kalau aku memang punya selera humor yang bagus. Aku suka membuat orang di sekitarku tertawa dan saat aku mendengar suara tawa itu, sering aku berpikir bahwa akulah yang membuat mereka tertawa. Aku tidak terlalu mengerti kenapa, tapi itu membuatku tenang, dan tentu saja bangga pada saat yang sama. Setidaknya aku menganggap diriku telah menyumbang sepersekian kebahagiaan dalam hidup mereka.

Tapi hidupku berubah, aku yang dulu bisa membuat sekelompok orang tertawa penuh kebahagiaan kini bahkan tak bisa membuatnya tersenyum sedikitpun saat bersamaku. Kurang ironis apa sih? Orang yang paling ingin kubuat tertawa malah terus-terusan menangis saat bersamaku.

Dia membuat hidupku—dan hatiku—jungkir balik. Saat dia bersamaku, aku sadar ia tidak tenang. Lalu kemudian saat aku mencoba melepaskannya, saat aku berpikir bahwa hal itulah yang terbaik baginya, aku malah membuat tangisnya makin keras. Lalu kuputuskan untuk diam dan tetap di sampingnya, dan dia tersenyum, dan berkata bahwa ini cukup. Kemudian sekonyong-konyong aku merasa seakan sudah menyelamatkan seribu jiwa dari tsunami.

Hatinya terbuat dari kaca.  Indah dan berkilau, namun disisi lain rapuh dan super sensitif. Kadang aku takut untuk memperhatikannya, karena aku berpikir ia akan pecah dengan hanya sedikit tekanan dari sekelilingnya. Namun ternyata aku salah, pada saat yang sama hatinya juga sekuat baja, tahan banting dan anti gores, aku tidak tahu apa yang ia makan sehari-hari, tapi ia tetap tegar berdiri di sampingku, menepuk punggungku sesekali untuk meyemangatiku dan seperti berkata “relax, I’m still here”.

Aku tidak ingin terlihat seperti pengecut di matanya. Ingin rasanya aku mengulurkan tangan dan menggenggam tangannya yang rapuh. Tentu saja itu tidak cukup. Pada kenyataannya aku ingin memeluknya, mengatakan “semua baik-baik saja” (yang biasanya tidak baik-baik saja), dan memberikan padanya apapun yang aku miliki untuk membuatnya berpikir: sekarang aku sedang bersama orang yang tepat.

Kadang aku bertanya dalam hati, bolehkah aku berpikir bahwa Tuhan menciptakannya untukku? Kalau bukan, bolehkah aku mengubah takdirnya agar ia jadi milikku? Karena hidup tanpa dirinya lebih baik mati. Bolehkah aku menyukainya? Bolehkah aku berpikir bahwa aku pantas mencintainya? Karena terkadang aku merasa begitu jauh, terlalu jauh, dengannya.

Bolehkah aku memiliki hatinya? Hati yang terbuat dari kaca itu…bolehkah untuk diriku sendiri?

__________________________________________________________________________

A/N: This is kinda late for a prologue after a long-long hiatus, i know. Do not complain, I understand my fault. Sebenarnya bagian prolog ini kubuat setelah aku selesai mengerjakan bagian tiga, tapi entah kenapa aku tidak bisa membawa diriku untuk mempublikasikannya. Setelah hiatus lama, kupikir sudah waktunya untuk kembali meletakkan jariku di atas keyboard, tempat yang lebih nyaman untuk meletakkan tangan daripada buku latihan soal fisika. Aku harap kalian para pembacaku (jika ada), mengerti ini🙂

Mungkin, hanya MUNGKIN, beberapa waktu lagi aku akan mem-post-kan bagian ketiga. MUNGKIN.

One thought on “A Heart Made From Glass 0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s