Tenang, Mobil Antar Jemput Itu Bukan Shinkansen

Anak perempuan kecil itu memandangi buku cetak matematikanya. Tidak banyak angka, hanya beberapa kalimat sederhana dalam soal cerita. Seharusnya ia bisa saja mengerjakannya, bila saja ia lebih fokus.

Fokus.

Kening anak perempuan itu berkerut, genggamannya pada pensil kayunya mengendur, lalu mengencang. Berkali-kali ia memutar pensil itu dalam genggamannya, sembari menoleh ke arah jam dinding.

10.00. Waktunya pulang.

Ia menoleh ke sekeliling, buku matematikanya diabaikan. Kelas itu sepi, cukup sepi untuk kelas berisi murid-murid kelas 1 sekolah dasar. Yang terdengar hanya cekikikan di pojok ruangan dan gumaman pelan di sana-sini, lainnya hanyalah suara pensil yang menggores permukaan kertas. Tapi tidak ada yang bersiap untuk pulang.

Sang anak mulai merasa cemas. Ia tidak peduli bahwa ia sama sekali belum mengerjakan tugasnya atau apapun, yang ia inginkan adalah keluar dari ruangan itu.

Pulang. Pikirnya, cemas. Atau aku akan tertinggal.

Memutuskan untuk bertahan beberapa menit lagi, sang anak berambut ikal berjuang mengerjakan tugasnya. Nihil. Otaknya tidak mau diajak berkompromi, yang dapat ia pikirkan adalah apa yang harus dia lakukan jika nanti ia ditinggal pergi. Ia tidak berani naik kendaraan umum dan berjalan pulang ke rumah jelas bukan pilihan yang bijak.

Ia memilih option terakhir.

“Bu, kapan kita pulang sekolah?” Tanyanya pada sang ibu guru.

“Sebentar lagi,” jawab gurunya.

Sang anak hanya mengangguk, lalu kembali ke tempat duduknya. Dalam hati ia bertanya-tanya:.berapa lama lagi yang dimaksud “sebentar lagi?”

“Bu, masih lamakah sebentar lagi?” Ia kembali bertanya 3 menit kemudian.

“Memangnya ada apa?” Ibu guru kembali bertanya padanya, lembut dan pelan.

“Saya sedang ditunggu oleh antar jemput saya,” akhirnya sang anak menjawab.

Sang guru terdiam beberapa saat, sebelum tersenyum. “Antar jemputmu akan menunggu.”

Dia tidak akan menungguku, pikir anak itu, untuk kedua kalinya berjalan ke tempat duduk. Bahunya merosot. Matanya berair.

Dengan cepat ia mengusanya.

Mungkin… ia belum paham. Sebenarnya antar jemput anak sekolah dasar rela menunggu sampai 2 jam apabila yang dijemput tidak kunjung muncul. Setidaknya menunggu lebih baik daripada mendengar ocehan orang tua sang anak.

-Sepuluh, atau sebelas tahun yang lalu-

2 thoughts on “Tenang, Mobil Antar Jemput Itu Bukan Shinkansen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s