Alasan-Alasan Kenapa Aku KURANG Suka Fisika

Sebenarnya aku punya banyak (percayalah, aku punya BANYAK) alasan kenapa aku kurang menggemari salah satu pelajaran inti di jurusanku ini. Tapi aku akan menyingkatnya jadi beberapa poin saja. Alasan pertama adalah karena aku berbaik hati, yang kedua adalah karena aku tidak mau dianggap tukang ngomel.

Jadi begini:

1. Soal fisika selalu soal cerita
Tidak seperti matematika atau kimia (yang walaupun sama-sama soal cerita namun SEDIKIT lebih mudah dimengerti), soal fisika harus dibaca minimal 2 kali dan terkadang harus digambar dengan segala kerumitannya. Belum begitu sering kali ketika aku sudah mulai menggambarnya, aku malah tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan yang sudah kugambar.

2. Fisika sulit diaplikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Hal yang satu ini persis dengan kimia, tapi karena sekarang aku sedang membahas bagimana indahnya kehidupan fisikaku, aku akan mengabaikannya.

Begini, aku tidak mungkin mengaplikasi masalah gerak parabola dalam kehidupan sehari-hariku. Misalnya saja seperti ini: aku melempar sebuah bola. Alih-alih sampai ke ujung lapangan, bola itu malah “nyangkut” di atas pohon dengan ketinggian h. Pertanyaannya: berapa kecepatan awal bola?

Hell! Kenapa tidak mereka tanyakan saja sekalian pohon jenis apa yang terkena bolaku?

Ehm, but seriously, yang kutanyakan pertama kali ketika aku melihat soal itu adalah: bagaimana cara menurunkan bolanya?

Selain perkara tentang pertanyaan yang aneh nan tidak mungkin seperti contoh di atas, aku juga sering berangan-angan seperti ini: aku tidak mungkin bisa mencari makan dengan cara menghitung berapa impuls seorang petinju yang menggampar muka lawannya.

Bisa membayangkan? Aku tidak.

3. Terlalu banyak rumus, terlalu sedikit ruang di otak
Aku tahu bahwa seharusnya rumus itu adalah untuk dipahami dan bukannya untuk dihafalkan setiap h-1 ulangan, tapi untuk seseorang sepertiku (dan banyak orang lainnya) hal ini sukar dilakukan. Aku ingat guru lesku pernah berkata: “masuk jurusan IPA itu lebih mudah, karena bab 1 dengan bab lainnya selalu berhubungan satu sama lain. Tidak seperti jurusan lain yang setiap ganti bab selalu membahas hal baru”

Itu sebelum aku memasuki masa penjurusan. Aku sama sekali tidak tahu bahwa apa yang dilakukan beliau adalah promosi kepadaku, entah sengaja atau tidak. Yang pasti, kini, saat aku memasuki medan aslinya, aku menyadari apa arti lain dari perkataan guruku.

…jika 1 bab berhubungan dengan bab lain…bukannya itu artinya jika aku tidak mengerti 1 bab, aku akan kewalahan untuk bab-bab selanjutnya?

Dan itulah yang terjadi padaku.

Terima kasih, Pak. Atas promosi dan nasihatnya. Akan saya ingat baik-baik dan simpan dalam kepala.

4. Tidak pernah selesai dengan hanya 1 rumus
Aku ini manusia instan. Aku suka sesuatu yang akan langsung terlihat hasilnya begitu aku mulai mengerjakan (mungkin karena itulah aku selalu gagal untuk menyukai tugas sekolah, karena aku tahu mereka tidak akan pernah selesai). Satu soal fisika minimal membutuhkan 2 rumus untuk menuntaskannya. Untuk kasusku, biasanya aku membutuhkan lebih. Itu berarti lebih banyak waktu tersita dan lebih banyak kertas terbuang untuk lahan buramku.

Juga lebih banyak stress untuk ditumpuk.

Soal fisika membutuhkan penjawab soal yang memiliki kemampuan logika tinggi, yang bisa melihat cahaya jawaban dibalik pekatnya awan masalah, dan menemukan pencerahan di balik pertanyaan yang berputar-putar.

Aku tidak punya kesabaran semacam ini. Dari pada membuka buku untuk mengerjakan soal, aku lebih memilih untuk melemparnya kedinding (salah satu alasan kenapa terdapat banyak sobekan di sampul buku kerjaku).

5. Tak lain tak bukan, guru yang mengajar mata pelajaran ini
Ini bukan pertama kalinya aku bertanya: apa tidak ada guru fisika yang sungguh-sungguh MENGAJAR fisika di sekelilingku?

Bukan aku tak tahu sopan santun dengan mencemooh guruku sendiri (tak tahu sopan santun adalah perilaku sopan yang tertunda), tapi terkadang aku tidak mengerti apa yang ada dipikirkan oleh para mahaguru yang amat sakti mengatasi fisika ini.

Bukankah mereka pernah menjadi murid?

Apakah berbeda rasanya jika menjadi guru?

Tidakkah anda seakan melihat diri anda sendiri jika melihat murid-murid?

Aku tidak mengerti.

Kami ini hanya murid biasa. Sratch that. Aku ini hanya murid biasa. Aku tahu kelas kecil kami dipenuh sesak oleh 36 kepala. 37 jika sang guru diikutsertakan. Tapi bukan berarti anda dapat memukul rata kemampuan kami. Tolong berhenti menyamakan kepintaran 1 murid dengan 35 murid lainnya. Jika mungkin para guru itu menganggap kami adalah turunan Einstein, percayalah, beberapa dari kami adalah turunan ke delapan atau mungkin kesembilan. Kami tidak mendapat kesaktian kakek buyut kami.

There, i spilled it.

Aku tidak bermaksud untuk menghasut kalian agar membenci pelajaran satu ini. Setiap orang terlahir dengan keistimewaan sendiri-sendiri. Aku tidak iri dengan mereka yang menganggap fisika sebagai pelajaran favorit (well, mungkin kadang-kadang, karena aku tidak pernah bisa merasa seperti itu). Posting ini semata-mata aku tulis untuk menuangkan stress akibat ulangan yang akan datang 24 jam dari sekarang.

Aku tidak berharap muluk-muluk. Aku hanya berharap beberapa biji soal yang berhasil kucuri dengar benar adanya.

2 thoughts on “Alasan-Alasan Kenapa Aku KURANG Suka Fisika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s