Pohon, Isyarat, dan Pesawat Pak Habibi

Sebelumnya aku ingin berterima kasih, entah kepada koneksiku yang super lambat, atau kepada wordpress yang punya format yang begitu kompleks sampai-sampai tidak bisa di-load olehku. Halaman log in pun tidak bisa kuakses! Memangnya mereka pikir rasanya nyaman menekan-nekan tuts dilayar?

Well, that aside. For now. I’ll send my complain letters later.

Pohon

Ini terjadi kemarin lusa.

Aku selalu pulang naik angkutan umum setiap hari, kecuali hari sabtu karena ibuku libur di hari itu. Jarang diantar oleh teman karena  tidak banyak yang tinggal di daerahku. Mungkin banyak, tapi aku tidak mengenal mereka. Aku tidak mengeluh, terkadang aku berpikir bahwa satu-satunya ‘me time’ yang aku miliki adalah saat aku berada di dalam angkutan umum. Dengan headset terpasang, atau buku  terbuka di pangkuan. Tidak ada yang mengenalku, jadi tidak perlu bersusah payah mencari topik pembicaraan.

Kalau tidak salah saat itu yang terdengar dari speaker headsetku adalah ‘4645’-nya radwimps. One of the rock alternative band that i like.
Angkutan yang kunaiki berhenti di perempatan, lampu merah. Aku tidak membawa buku hari itu, jadi aku hanya menatap hal secara random dari tempatku duduk. Hal random kali itu adalah seorang anak yang  duduk di pinggir jalan, tepat di hadapanku.

Rambutnya kecoklatan karena terpampang matahari, seperti kulitnya. Pakaiannya rapi, kaos dan celana pendek, tapi lusuh. Anak laki-laki itu mungkin baru kelas 5 sekolah dasar, tapi kukatakan padamu Dewi Fortuna tidak pernah memihakku dalam hal menebak usia dari penampilan. Tangan kirinya memegang ‘kerincingan’ yang tersusun dari tutup botol minuman ringan, sedangkan tangan kanannya memegang potongan batang pohon sepanjang tutup bulpoin.

Pada awalnya kupikir itu tebu, karena beberapa kali ia membawa batang itu ke mulutnya dan menggigiti kulit kayunya sampai lepas. Tapi kemudian ia  melakukan hal lain dan aku tahu bahwa itu bukan tebu.

Anak itu menggali tanah, kemudian ia membenamkan batangan yang sudah ia kuliti kulit kayunya. Ia menanamnya. Matanya memandang sekeliling seakan ia takut akan ada seseorang yang menangkapnya karena ia baru saja menenggelamkan sebatang kayu dalam tanah.

Ketika itu matanya menangkapku, dan dengan terpaksa aku harus memalingkan wajah. Lampu hijau.

Sepele memang, tapi aku merasa terperangah dengan apa yang baru aku lihat. Apa anak itu baru saja melakukan stek? Tanpa tumbuhan induk? Jenius, tapi agak bodoh, juga patut diacungi jempol dan yang melihat harus malu karena masih membuang sampah sembarangan.

Mungkin itu alasan kenapa aku menulis ini. Karena aku malu pada diriku sendiri.

Aku punya banyak cita-cita. Dan ketika orang-orang bertanya, aku akan mengatakan–setelah menjawab duta luar negeri dan penulis–bahwa cita-citaku yang ke 105 adalah menjadi tukang ledeng di Jakarta.

Hey, don’t laugh! Untuk apa punya menteri-menteri baru kalau tidak bisa membereskan banjir ibu kota? Uhhhh, no. Jakarta darurat banjir.is bullshit, yang benar adalah INDONESIA darurat banjir. That sounds better🙂

Jika dunia itu semudah bermain The Sims (tahu kan, permainan menjadi Tuhan itu), aku mungkin akan merubuhkan semua bangunannya dan membangun kembali Jakarta, versi tahun ’80.

Tapi sumpah, jika kau melihat  anak itu seperti aku, kau akan berhenti meremehkan anak kecil, apalagi yang duduk di pinggir jalan, dengan ‘kerincingan’ di tangan dan benih pohon di tangan lainnya.

Ayolah, bukannya sudah terlalu lama kita merusak dunia ini?

Isyarat

Sembunyi-sembunyi. Aku memandangnya secara sembunyi-sembunyi.

Wanita itu duduk di hadapanku, di dalam angkutan umum sore itu,  setelah aku pulang sekolah. Lagi-lagi naik angkutan umum? Jangan khawatir, terkadang kau akan menemukan hal-hal menarik yang biasanya akan kau abaikan begitu saja.

Dari speaker  headsetku, aku dapat mendengar lagu ‘magic’, one direction. Samar dan pelan. Aku menyetelnya dengan volume paling kecil.

Meskipun begitu, aku masih saja tidak mendengar apa yang dikatakan oleh wanita di depanku. Tangannya bergerak lincah, dan alisnya terangkat. Tapi aku tidak mendengar suara apapun.

Wanita ini kehilangan kemampuan bicaranya. Atau mungkin tidak pernah punya sama sekali. Salah satu dari itu, aku tidak tahu.

Dari sudut mataku aku meneliti gerakan tangannya. Yang notabene 17 kali lebih cepat daripada gerakan tangan guru kesenianku di sekolah.

Tangan menutupi kepala? “Payung?”

Gerakan seakan mengusir…”keluar angkutan?”

Dua kepalan tangan saling menimpa satu sama lain? …aku tidak punya ide mengenai apa artinya.

Jari telunjuk menunjuk ke atas? Apa? Langit? Tuhan?

Kemudian, wanita itu tiba-tiba berhenti. Ia mamandang lawan bicaranya, yang saat itu duduk di sampingnya dan berwajah kebingungan. Selama beberapa saat seperti itu, sebelum akhirnya wanita berambut pendek itu tersenyum dan menggerakkan jarinya di permukaan kaca yang berembun.

Ngerti?

Aku tidak melihat bagaimana respon yang ditanya, karena aku cepat-cepat memalingkan muka.

Biar kukatakan padamu: bukannya aku tidak punya hati. Tapi berbicara dengan orang tuna wicara karena sekedar rasa penasaran tanpa ada kemauan untuk menolong (andai saja ia butuh pertolongan), menurutku sangatlah tidak bijak. Kalau ia butuh pertolongan, ia akan mengisyaratkannya padaku. Aku tidak akan memandanginya dengan mata besar yang  penasaran. Manusia bukan hewan sirkus.

Tapi bertemu dengannya membuatku berangan-angan, dan membuatku memasukkan satu nomor lain dalam wishlist ku: aku ingin belajar bahasa isyarat. Entah secara aktif maupun pasif, setidaknya aku akan mengerti jika nanti aku bertemu dengan wanita itu lagi. Mungkin.

Mungkin, hanya mungkin…

Oh, sudah waktunya turun. Dan payungku terbalik begitu aku membukanya.

Pesawat Pak Habibi

Setiap pulang sekolah hari Jum’at, aku dipaksa untuk berganti angkutan umum sebanyak 2 kali. Tentu saja kegiatan oper-mengoper menyenangkan kalau saja tasku ringan, dan hari cerah, dan angkutanku sudah menunggu di pojokan. Oke, aku akan mengeluh. Sedikit. Hari itu bawaanku dua kali lebih banyak daripada biasanya, dengan satu tambahan tas kertas berlubang karena terkena sudut pigura yang tajam di dalamnya, mendung dan hujan seakan bersekutu untuk mengkhianati  matahari (and they did it veeery cruel, you know, storm and rain? Not a good combination), dan masalah payungku yang terbalik? Tas punggungku basah kuyup seakan baru kuceburkan ke dalam kolam ikan teri. Berita baiknya adalah angkutanku sudah tiba saat aku turun dari yang sebelumnya,.masih bergulat dengan tetesan air dan gagang payung, juga tas kertas yang lembab.

Bagian dalam angkutan lembab. Aku menghela nafas dan mengambil duduk. Merapikan payung lipatku yang seperti golden retriever baru dimandikan. Satu-satunya penumpang selain aku, seorang siswa dari sekolah lain, merengut tidak setuju saat air dari payungku menyipratinya.

Aku tidak peduli. Aku basah. Tasku lebih basah lagi. Dan aku tidak mau melihat orang yang lebih sebal daripada aku.

Suara hujan membenamkan lagu ‘sight of the sun’-nya fun, dan semakin tidak terdengar lagi ketika segerombolan ibu-ibu dari pabrik rokok  pinggir jalan memasuki angkutan. Butuh kekuatan ekstra dan bonus kesabaran untuk tidak memutar mata dan menyumpah.

Kini angkutan menjadi super sempit, hanya menyisakan sedikit tempat bagiku dan area gerak tanganku sehingga aku tidak bisa menggapai ponselku dan mengeraskan volumenya. Secara terpaksa aku harus mendengar celotehan ribut 7 wanita pekerja di hadapanku.

Untuk orang se-bad mood aku, percayalah, kalau saja aku tidak tahu diri, aku pasti sudah meledak di dalam sana. Mereka membicarakan hampir tentang apapun! Anak, kantor, teman yang tidak aku kenal, politik, diskon sayur pagi hari, dan tentu saja, trending topic Indonesia Raya tahun ini: banjir.

Ibu pelinting di hadapanku, yang suaranya paling keras dan kalimatnya paling tajam, berkata kepada temannya:

Mangkane kongkonen Pak Habibi nggae pesawat sing lek misale banjir isa mumbul!

Terjemahannya: Maka karena itu mintalah Pak Habibi membuat pesawat yang begitu ada banjir bisa langsung melayang!

Terlepas dari suasana hatiku dan suasana lembab di sekelilingku, aku berusaha untuk menahan tawa. Entah kenapa ide tadi terdengar menarik sekaligus lucu di telingaku. Aku tersenyum kecil, dan siswa tadi menatapku heran.

Tanpa sadar aku menghabiskan sisa perjalananku mendengarkan sesi tukar informasi para ibu pelinting rokok itu.

Order Made yang dinyanyikan oleh Radwimps terdengar samar dan lembut:

Aku yakin seseorang pernah bertanya padaku: masa lalu atau masa depan? Pilih salah satu dan aku akan membiarkanmu melihatnya.

Aku memilih masa lalu. Agar alih-alih menjadi orang yang kuat, aku akan menjadi orang yang baik hati.

Agar aku mengerti apa arti kenangan.

5 thoughts on “Pohon, Isyarat, dan Pesawat Pak Habibi

    • keep on writing like this and i’ll “‘fall’ again for you..”
      were you quoting for a song or what?😄
      aaaand, by the way, uhhhm, should i edit that comment? -____________________________________-
      just kid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s