30 Days of May (1/?)

Aku tidak pernah menyukai bulan kelima ini.

“Kau bercanda?”

Totally subjective. Tidak ada alasan khusus. Dan aku tidak berusaha  sama sekali untuk mengubah presepsiku.

“Kami tidak mungkin menerbitkan yang seperti ini!”

Menurutku bulan ini adalah neraka kehidupan, dan akan terus begitu setiap tahun.

“Tolong jangan tinggalkan otakmu di atas keyboard selama kau mengetik. You need it. Bad.”

Tapi bukan berarti aku membencinya dari dulu. Tidak. Pikiran betapa buruknya bulan Mei baru saja tercipta di alam bawah sadarku akhir-akhir ini.

“Bukan berarti karena semua tulisanmu menjadi best seller, kau bisa dengan bebasnya berpikir bahwa semua coret-coretan isengmu bisa membawa keuntungan bagi kami.”

Benar. Pikiran itu datang setelah aku bertemu dengan orang yang saat ini duduk berhadapan denganku. Hanya dibatasi oleh sebuah meja tempat dimana ia menyandarkan kakinya seenaknya. Memberiku hal lain untuk dipelototi selain wajah tertutup kertas dan sol sepatu usang.

Tidak ada yang bicara selama beberapa saat. Yang terdengar hanya suara gesekan kertas yang dibolak-balik dan dengungan pendingin ruangan tua di sudut ruangan.

Kemudian, ”Oh ya, aku tidak bermaksud kasar dengan mengatakan semua itu, kau tahu.”

Aku tidak tahu apakah itu merupakan kebiasaannya untuk menjelaskan hal yang paling tidak masuk akal menurutku, atau mungkin ia sedang membela dirinya sendiri. Yang pasti ia tidak mengatakan ‘maaf’ padaku. And he pulled the last  string on my nerves.

“Kalau begitu mungkin anda harus mencari di kamus mengenai apa yang dimaksud dengan ‘tidak kasar’, karena menurut saya diksi anda tidak sesuai dengan apa yang anda katakan.”

Itu pertama kalinya aku bicara setelah aku masuk ke dalam ruangan ini 46 menit yang lalu dan membiarkan matanya men-scanning naskah yang kuberikan.

Pemuda di hadapanku agaknya terkejut, tidak menyangka aku akan membalas apa yang dikatakannya (yang menurutku sama sekali tidak mengagetkan). Ia menyingkirkan naskahku yang menghalangi kontak mata kami dan untuk pertama kalinya dalam 40 menit terakhir, menatapku.

Aku disambut oleh mata pemuda yang mungkin sedang ada di pertengahan 20. Bukan berarti aku tertarik. Matanya menatapku melewati lensa kacamata berbingkai hitamnya. Penasaran. Bingung. Rambut hitamnya yang dipotong pendek terlihat acak-acakan. Memang tidak keren, tapi hal itu memberinya kesan kekanak-kanakan yang tidak kupahami.

Bukan berarti bahwa aku sedang berpikir bahwa ia sedikit imut. Tidak sama sekali.

“Harimu tidak bagus, nona?” Tanyanya.

Aku tidak langsung menjawab. Aku memandanginya  selama sepuluh detik penuh. Dan selama itu aku bertanya-tanya kemana perginya segala komentar pedas yang diberikannya padaku barusan? Pada akhirnya aku menarik nafas dan mengangguk. Orang ini peka, dan mungkin rasa kemanusiaannya baru saja mengambil alih dirinya.

Pemuda itu berkedip dan membenarkan letak kacamatanya dengan jari telunjuknya. “Well, itu menjelaskan semuanya, kurasa.”

Aku melemparinya pandangan tidak mengerti.

“Menjelaskan kenapa tulisanmu terbaca seperti buku harian remaja SMA murahan,” terangnya, nada datar, wajah tanpa ekspresi.

Ia mendorong tumpukan kertas itu kehadapanku dan aku dapat melihat coretan merah besar kini tertera di permukaannya: TC

Total Crap.

Apa aku masih harus menjelaskan kenapa aku tidak suka bulan ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s