30 Days of May (2/?)

“Oh, Sam, kau tidak akan menyangka betapa rindunya aku padamu,” erangku, meletakkan kepala di atas kedua lipatan tanganku. Permukaan meja yang dingin di bawah pipiku.

Samuel, yang saat itu sedang menyortir naskah-naskah penulis amatir yang baru masuk, memandangku dengan alis terangkat. “Tidak. Aku tidak pernah menyangka kau akan merindukanku.”

Aku  memandang mantan editorku itu dan menghela nafas. “Seharusnya kau sudah bisa menyangkanya saat kau menjualku kepadanya.”

“Aku tidak–”

“Ya, kau menjualku, Samuel. Dia memberikanmu beberapa penulis best seller miliknya, dan sebagai gantinya–”

“Aku harus memberikanmu padanya,” editor berumur 27 tahun itu menyelesaikan kalimatku. “4 penulis best seller untuk kau seorang. Titan memberiku permintaan eksklusif untukmu, kalau menurutku.”

“Dalam benakmu,” gumamku sebal, meraih salah satu bendel naskah dan membacanya sekilas. Keningku berkerut. “Kau yakin mau memasukkan yang ini?”

Tanpa melihatku, Sam menggeleng. “Terlalu cliche. Kau tidak pernah tahu berapa orang yang berpikir bahwa kami akan menerima naskah dengan awalan ‘pagi yang cerah, burung-burung bernyanyi’ dan kemudian terungkaplah bahwa tokoh utamanya terlambat bangun tidur.”

Ia menjelaskan semua itu sambil membalik-balik kertas yang di pegangnya, menyoret beberapa bagian kemudian meletakkannya kembali di tumpukan.

“Aku mengirim yang seperti itu,” kataku pada akhirnya, melirik tumpukan naskah yang di tolak di ujung meja. Tumpukan itu tinggi, dan berantakan.

“Ya. Tapi kemudian kau memberitahu pembaca bahwa saat itu tokoh utamanya sedang berada di kereta berkecepatan tinggi yang tidak bisa dihentikan.”

Aku memikirkan kalimat itu selama beberapa saat, kemudian mengangkat bahuku. “Kupikir itu normal?”

Sam melempariku tatapannya, kemudian  terkekeh sambil menggeleng. “Kejutkan aku, Katrina.”

Kalimatnya membawaku ke pertanyaanku selanjutnya yang sudah kupendam sejak tadi. “Uhh, Sam?”

“Ya?”

Aku menelan ludahku. “Kau pikir…apa kau pikir aku cocok di bidang ini?”

Mendengarnya, matanya Sam yang tadinya bergerak cepat mengikuti baris-baris tulisan kontan berhenti saat itu juga. “Katrina,” ia memulai, nadanya serius. “Apapun yang dikatakan Titan, tidak pernah sekalipun ia mengucapkan sesuatu yang tidak dimasukkannya untuk meng-improve penulis yang dipegangnya.”

Aku, terhenyak dengan apa yang baru aku dengar, entah kenapa merasa sebal. Memang benar kesanalah tujuan dari pembicaraanku, aku cukup tersentuh dengan kepekaan mantan editorku ini. Walaupun sebenarnya aku tidak perlu kaget karena begitu aku keluar dari ruangan Titan siang ini, GPS di dalam otakku langsung menunjukkan arah ke ruangan Samuel. And then i made  him listening to my rant for a good 37 minutes.

“Kau mendukungnya,” tuduhku.

Sam menghela nafas. “Aku tidak berpihak padanya, Rin,” ucap Sam, lebih kepada lelah daripada tersinggung. Aku hanya mengenalnya. I simply know his attitude and habits.”

“His bratty attitude and the weird habits,” aku mengoreksinya.

“Dia punya alasan untuk melakukannya, dan kupikir tidak banyak orang mempermasalahkannya selama ia memberikan hasil kerja yang keren.”

“Lihat, kau membelanya, Samuel.” Dan tidak banyak orang bukan berarti semua orang oke dengan apa yang mereka lihat.

“Sudah kubilang aku tidak–”

Aku memotong kalimat Sam dengan cepat, “Menurutmu seharusnya aku mulai mendekatkan diri padanya?” Entah kenapa aku merasa perutlu bergolak, mual.

Sam tidak langsung menjawab. Ia memandangiku selama beberapa saat, tangannya terangkat untuk mengacak-acak rambutnya yang sudah mulai melewat kerah kemejanya. “Mendekati dalam konteks urusan kerja, Katrina. Dan ya, kupikir tidak ada salahnya melakukan itu.”

Aku mempertimbangkan hal ini selama beberapa saat, sebelum merapikan barangku dan berdiri. “Trims, Sam. Kupikir perasaanku menjadi lebih baik setelah bicara denganmu.”

Sam tersenyum. “Senang bisa membantu. Kau masih boleh main-main kesini, kau tahu. Bukan berarti karena hubungan penulis-editor kita selesai akan ada peraturan tidak tertulis yang melarangnya.”

Aku tertawa dan berjalan menuju pintu, namun kemudian berhenti ketika sebuah pikiran terlintas di dalam otakku. Tangan membeku di pegangan pintu. “Sam,” aku menoleh ke belakang dan mendapati pemuda itu sedang menatapku, pensil dan naslah di tangan. “Serius, apa aku benar-benar cocok? Pantas berada di bidang ini?”

“Katrina, biar kukatakan ini padamu: kau adalah murid SMA paling jenius yang pernah kukenal.”

Aku mengangkat alisku dan ia menambahkan, “Dalam hal menulis.”

————————————————
Ketika aku membuka pintu, aku melihat orang yang paling terakhir ingin kutemui.

Titan berdiri di hadapanku, masih menggunakan kaos polonya seperti saat bertemu denganku, kacamata.masih terpasang, rambut masih berantakan.

Apa dia menguping pembicaraan kami?

Mungkin tanpa sadar aku telah menyuarakan pikiranku, karena Titan tiba-tiba membuka suara.

“Tidak, anak kecil. Jangan besar kepala,” katanya. Sebelum aku sempat membalasnya, ia sudah mengalihkan pandangannya dariku menuju Sam, yang ternyata sedang mengamati kami. “Hei, Sam.”

“Hai, Titan,” balas Sam dari dalam ruangan. “Ada apa?”

Editor baruku mengangkat bahunya. “Pada awalnya sebenarnya aku ingin mengajakmu makan siang di cafetaria, tapi kemudian tiba-tiba kupikir aku akan melakukan lunch meeting dengan penulis baruku. Keberatan?”

Aku tidak kaget saat Sam menjawab tidak.

“Kita baru saja meeting,” gumamku ketika kami berjalan menuju cafetaria. Beberapa karyawan yang berjalan melewati kami sesekali menyapa, Titan hanya mengangkat sebelah tangannya dan terus berjalan, memaksaku mengikuti langkah kakinya yang panjang.

“Tapi tidak untuk lunch,” jawab Titan.

Kami baru saja akan memasuki cafetaria, yang cukup sepi karena jam makan siang baru saja selesai, saat seorang karyawan berjalan ke arah kami dengan langkah terburu-buru.

“Hei, Titan, bisa bantu kami? Rapatnya alot dan orang dari bagian pemasaran butuh tanggapanmu untuk jumlah cetak bulan ini.”

Titan tidak langsung menjawab, ia melirikku, dan aku langsunh mengerti apa yang dipikirknnya. “Jangan khawatir, lagipula aku tidak bawa dompetku hari ini,” kataku sambil melambaikan tanganku, menegaskan maksudku.

Titan menoleh pada karyawan itu, “berikan padaku berkasnya, dan suruh mereka menunggu sebentar, aku harus mengambil beberapa baranh dari ruanganku. Jangan biarkan mereka saling jambak, oke?”

Karyawan itu tersenyum dan melakukan seperti apa yang dikatakan Titan sebelum pergi ke arah ia datang.

“Padahal aku berencana mentraktirmu,” gumam Titan disela-sela ia membaca berkas yang diberikan kepadanya.

“Kau serius?” Tanyaku, tidak percaya.

Pemuda itu mengangguk. “Aku tidak mengerti apa yang kau katakan dengan sikap yang jelek dan perilaku yang aneh, memang. Tapi kupikir Sam benar tentang mendekatkan diri itu.” Dan tanpa ‘sampai jumpa’ atau setidaknya ‘bye’, ia berjalan begitu saja meninggalkanku.

Saat punggungnya hilang di belokan, kenyataan itu menghampiriku.

SO HE DID EAVESDROPING.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s