How Dense One Can Be?

Aku tidak kaget ketika tiba-tiba teman sebangkuku berkata kepadaku, “Kau benar-benar tidak peka.”

Aku mengerjap. Tapi tidak membalas. Ini bukan pertama kalinya aku dikatai seperti itu, dan aku tidak bisa menyalahkannya karena berkata seperti itu padaku.

Melihat kebisuanku (persetujuanku akan kalimatnya), teman sebangkuku ini melanjutkan, “Kau tidak mengerti siapa yang dari tadi aku bicarakan, kan?”

Oke, yang mana? Karena selama 45 menit terakhir aku yakin kau sudah membicarakan 8 orang yang berbeda.

Aku menggeleng. Melihat ke depan melalui sudut mataku. Aku melihat guru bahasa Inggrisku sedang duduk di belakang mejanya, mata terpejam, kepala ditumpu di kedua tangan. Katanya meditasi. Menurut kami, itu tidur. Yang jadi pertanyaanku adalah bagaimana caranya beliau bisa bangun tepat sebelum bel pergantian pelajaran berbunyi.

Di sebelahku, teman sebangkuku masih saja berceloteh dengan seseorang yang duduk di depannya. Yang kusadari adalah perubahan topiknya; aku.

Bagaimana bisa sesi gosip berbagi informasi dengan cepatnya berubah menjadi sesi khusus 5 menit mengolok-olok ketidakpekaan-ku? Itu, juga bukan pertama kalinya. Jadi aku hanya diam dan mendengarkan.

Ketidakpekaan, itu kata mereka. Kataku, ketidakpedulian. Itu cukup jadi rahasiaku. Aku tidak perlu buka suara dan menjadikannya sebagai pembelaan. Bukan berarti alasan seperti itu bisa ‘mengembalikan’ harga diriku, mungkin lebih ke sebaliknya.

Aku baru saja selesai menerjemahkan sebuah kalimat, ketika partner-in-crime-nya teman sebangkuku tiba-tiba berkata, “Mungkin, suatu hari kau bahkan tidak akan sadar jika seseorang menyukaimu. Kau bicara dengannya setiap hari, melewati bangkunya setiap pergantian pelajaran, tapi mungkin kau tidak akan menyadari tatapan mata yang hanya ditujukannya padamu.”

Aku diam selama 5 detik penuh, sebelum tertawa terbahak-bahak. Seseorang sampai harus melempariku dengan potongan penghapus untuk menghentikanku.

“Oke,” kataku pada akhirnya, mengakhiri tawaku dengan sebuah batuk, “Itu tidak mungkin.”

“Oh, ayolah,” teman sebangkuku mendesah, berlebihan. “Itu hal yang paling mungkin terjadi padamu. Kau hanya melihat bukumu dan para siswa takut padamu, tidak pernah ada gosip tentangmu selama 2 semester ini, yang menurutku membosankan, dan beberapa dari mereka secara terang-terangan menunjukkan kesungkanan mereka.”

Sebelum aku sempat membalas, ia kembali bicara, “Kau juga tidak pernah suka seseorang, kan?”

“Pernah!” Kataku sebelum aku dapat menghentikan diriku sendiri.

“Hoooo, siapa?”

Aku tidak langsung menjawabnya. “….dulu sekali.” Bohongku. Bel istirahat berbunyi, dan guru yang rambutnya mulai menghilang dari permukaannya itu seperti telah direncanakan dari awal, membuka matanya dan berjalan keluar kelas dengan ucapan ‘selamat pagi’ pelan. Tidak ada yang membalas salamnya.

Ketika aku kembali menoleh pada temanku, ia sedang setengah berdiri, “Aku mau ke kantin,” katanya. “Kau ikut?”

Aku menggeleng.

Temanku mengangguk dan berjalan keluar dengan partner-in-crime-nya. Aku mengamati mereka, dan kemudian mataku menangkapnya. Berjalan tepat di luar pintu kelasku. Senyum terkembang di wajah.

Kupikir…aku mengerti kenapa aku seperti ini. Ketidakpedulian yang telah menjado kebiasaan ini dan ketidaktertarikan pada orang lain  yang kurasakan…mungkin sebenarnya aku mengerti penyebabnya.

Aku membiarkan mataku melihatnya dari jauh, tidak lama, sebelum akhirnya mengalihkan pandanganku. Tidak sesulit dulu, pikirku teringat bagaimana keadaanku beberapa bulan sebelumnya. Saat dimana mataku hanya tertuju pada dirinya, dan mungkin masih tertuju padanya.

Mungkin aku menolak untuk berpikir seperti itu.

Aku menghela nafas, terlalu banyak kata mungkin, terlalu banyak ketidakyakinan. Baru saja aku mengangkat pensilku dan hendak mengerjakan soal dihadapanku, ketika sebuah suara memanggilku. Aku menoleh, dan mendapatinya berdiri di pintu kelasku.

O-ow. Aku berjalan ke arah pintu, dan ia tersenyum padaku. O-ow.

“Hei,” katanya.

“Hei.”

Dalam hati aku mengucapkan suatu mantra, satu kalimat: i don’t like you, i don’t like you, i don’t like you…

Ia tersenyum lebih lebar, dan mantra itu berubah bunyi: you’re not mine…and you will never be.

Munkin temanku yang banyak omong itu benar adanya, aku mungkin tidak akan menyadari tatapan mata orang yang menyukaiku (kalaupun ada), karena mataku mungkin tanpa sadar akan mengikutimu, mau ataupun tidak.

Mungkin kau juga tidak pernah menyadarinya.

How dense one can be?

3 thoughts on “How Dense One Can Be?

  1. oh ho~ here it goes the mysterious insensitive girl’s tragic love story xD i don’t know if it is a real story or not but i like it😀 anyway, kalau dilihat-lihat dari post-post milikmu, aku rasa kau adalah orang yang sangat peka.. ;3 *lirik postingan Pohon, Isyarat, dan Pesawat Pak Habibi”. kamu menerjemahkan keadaan di sekitarmu yang sebenarnya bukan hal yang biasa di perhatikan oleh orang biasa(?) ke dalam suatu filosofi(?) yang dalam x’D yaah.. gimana pun juga kepekaanmu terhadap masalah2 seperti di atas sepertinya masih kurang. :v jadi apa inti komenku yang super panjang ini ya…

    • “the mysterious insensitive girl’s tragic love story”…should i make that a theme for the latest horror movie of mine, or what? :p
      and yeah, it’s originally mine, and yeah, it’s real (which makes my life looks more pathetic than it should be)…urrgh, mind to stop making me act like one of galauers out there? because i refuse to be one of them —
      …kamu orang pertama yang mengatakannya, sumpah. karena aku pikir aku aneh dengan memperhatikan hal-hal itu o.o (sumpah) [and i would to thank you for saying it :)]

  2. that would be good, i think it’d be the next best-seller movie and maybe you can walk on the red carpet to receive your oscar trophy :v
    eh? what did i do?xDD
    ahhaa~😉 you know because i like doing that too. my previous (dumped) blogs are exactly the same as yours😉 and yeah, i like those people who can pull out another point of view from what they see. that things is like… a gift? :v because lately people tend to see something from its appearance, they don’t see something else that is actually exist inside them, yknow what i mean, dontcha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s