One litre of snots

one-litre-of-snotsI highly recommended you to NOT imagine it. Gross.

Don’t even let your brain think about it! yet.

[NO OFFEND PEOPLE. IT’S JUST AN ANALOGY ABOUT HOW MUCH FLUID IN MY NOSE IS. PEACE]

Continue reading

Advertisements

You got the widest paper in your head

I hate biology. Or anything that consist of soooo many things to remember.

I can’t do this. I have to write it.

Can’t. Too little space.

Need more. A paper I can use to write everything, from the basic until the very detail.

Everything. There so many much to remember. Just reading won’t give me much.

Paper! No space. I can’t write it there. No detail.

Wait. I have one. The biggest one, so wide I can write everything there, so clean I don’t have to use my eraser, so light I can bring it everywhere.

My brain.

I clasped my hands. God, may I remember all things I read, may I never forget what I wrote in my brain, sincerely, your perfect creature.

I may get my ass kicked out the class if I failed this one.

How Dense One Can Be?

Aku tidak kaget ketika tiba-tiba teman sebangkuku berkata kepadaku, “Kau benar-benar tidak peka.”

Aku mengerjap. Tapi tidak membalas. Ini bukan pertama kalinya aku dikatai seperti itu, dan aku tidak bisa menyalahkannya karena berkata seperti itu padaku.

Melihat kebisuanku (persetujuanku akan kalimatnya), teman sebangkuku ini melanjutkan, “Kau tidak mengerti siapa yang dari tadi aku bicarakan, kan?”

Oke, yang mana? Karena selama 45 menit terakhir aku yakin kau sudah membicarakan 8 orang yang berbeda.

Aku menggeleng. Melihat ke depan melalui sudut mataku. Aku melihat guru bahasa Inggrisku sedang duduk di belakang mejanya, mata terpejam, kepala ditumpu di kedua tangan. Katanya meditasi. Menurut kami, itu tidur. Yang jadi pertanyaanku adalah bagaimana caranya beliau bisa bangun tepat sebelum bel pergantian pelajaran berbunyi.

Di sebelahku, teman sebangkuku masih saja berceloteh dengan seseorang yang duduk di depannya. Yang kusadari adalah perubahan topiknya; aku.

Bagaimana bisa sesi gosip berbagi informasi dengan cepatnya berubah menjadi sesi khusus 5 menit mengolok-olok ketidakpekaan-ku? Itu, juga bukan pertama kalinya. Jadi aku hanya diam dan mendengarkan.

Ketidakpekaan, itu kata mereka. Kataku, ketidakpedulian. Itu cukup jadi rahasiaku. Aku tidak perlu buka suara dan menjadikannya sebagai pembelaan. Bukan berarti alasan seperti itu bisa ‘mengembalikan’ harga diriku, mungkin lebih ke sebaliknya.

Aku baru saja selesai menerjemahkan sebuah kalimat, ketika partner-in-crime-nya teman sebangkuku tiba-tiba berkata, “Mungkin, suatu hari kau bahkan tidak akan sadar jika seseorang menyukaimu. Kau bicara dengannya setiap hari, melewati bangkunya setiap pergantian pelajaran, tapi mungkin kau tidak akan menyadari tatapan mata yang hanya ditujukannya padamu.”

Aku diam selama 5 detik penuh, sebelum tertawa terbahak-bahak. Seseorang sampai harus melempariku dengan potongan penghapus untuk menghentikanku.

“Oke,” kataku pada akhirnya, mengakhiri tawaku dengan sebuah batuk, “Itu tidak mungkin.”

“Oh, ayolah,” teman sebangkuku mendesah, berlebihan. “Itu hal yang paling mungkin terjadi padamu. Kau hanya melihat bukumu dan para siswa takut padamu, tidak pernah ada gosip tentangmu selama 2 semester ini, yang menurutku membosankan, dan beberapa dari mereka secara terang-terangan menunjukkan kesungkanan mereka.”

Sebelum aku sempat membalas, ia kembali bicara, “Kau juga tidak pernah suka seseorang, kan?”

“Pernah!” Kataku sebelum aku dapat menghentikan diriku sendiri.

“Hoooo, siapa?”

Aku tidak langsung menjawabnya. “….dulu sekali.” Bohongku. Bel istirahat berbunyi, dan guru yang rambutnya mulai menghilang dari permukaannya itu seperti telah direncanakan dari awal, membuka matanya dan berjalan keluar kelas dengan ucapan ‘selamat pagi’ pelan. Tidak ada yang membalas salamnya.

Ketika aku kembali menoleh pada temanku, ia sedang setengah berdiri, “Aku mau ke kantin,” katanya. “Kau ikut?”

Aku menggeleng.

Temanku mengangguk dan berjalan keluar dengan partner-in-crime-nya. Aku mengamati mereka, dan kemudian mataku menangkapnya. Berjalan tepat di luar pintu kelasku. Senyum terkembang di wajah.

Kupikir…aku mengerti kenapa aku seperti ini. Ketidakpedulian yang telah menjado kebiasaan ini dan ketidaktertarikan pada orang lain  yang kurasakan…mungkin sebenarnya aku mengerti penyebabnya.

Aku membiarkan mataku melihatnya dari jauh, tidak lama, sebelum akhirnya mengalihkan pandanganku. Tidak sesulit dulu, pikirku teringat bagaimana keadaanku beberapa bulan sebelumnya. Saat dimana mataku hanya tertuju pada dirinya, dan mungkin masih tertuju padanya.

Mungkin aku menolak untuk berpikir seperti itu.

Aku menghela nafas, terlalu banyak kata mungkin, terlalu banyak ketidakyakinan. Baru saja aku mengangkat pensilku dan hendak mengerjakan soal dihadapanku, ketika sebuah suara memanggilku. Aku menoleh, dan mendapatinya berdiri di pintu kelasku.

O-ow. Aku berjalan ke arah pintu, dan ia tersenyum padaku. O-ow.

“Hei,” katanya.

“Hei.”

Dalam hati aku mengucapkan suatu mantra, satu kalimat: i don’t like you, i don’t like you, i don’t like you…

Ia tersenyum lebih lebar, dan mantra itu berubah bunyi: you’re not mine…and you will never be.

Munkin temanku yang banyak omong itu benar adanya, aku mungkin tidak akan menyadari tatapan mata orang yang menyukaiku (kalaupun ada), karena mataku mungkin tanpa sadar akan mengikutimu, mau ataupun tidak.

Mungkin kau juga tidak pernah menyadarinya.

How dense one can be?

Pohon, Isyarat, dan Pesawat Pak Habibi

Sebelumnya aku ingin berterima kasih, entah kepada koneksiku yang super lambat, atau kepada wordpress yang punya format yang begitu kompleks sampai-sampai tidak bisa di-load olehku. Halaman log in pun tidak bisa kuakses! Memangnya mereka pikir rasanya nyaman menekan-nekan tuts dilayar?

Well, that aside. For now. I’ll send my complain letters later.

Pohon

Ini terjadi kemarin lusa.

Aku selalu pulang naik angkutan umum setiap hari, kecuali hari sabtu karena ibuku libur di hari itu. Jarang diantar oleh teman karena  tidak banyak yang tinggal di daerahku. Mungkin banyak, tapi aku tidak mengenal mereka. Aku tidak mengeluh, terkadang aku berpikir bahwa satu-satunya ‘me time’ yang aku miliki adalah saat aku berada di dalam angkutan umum. Dengan headset terpasang, atau buku  terbuka di pangkuan. Tidak ada yang mengenalku, jadi tidak perlu bersusah payah mencari topik pembicaraan.

Kalau tidak salah saat itu yang terdengar dari speaker headsetku adalah ‘4645’-nya radwimps. One of the rock alternative band that i like.
Angkutan yang kunaiki berhenti di perempatan, lampu merah. Aku tidak membawa buku hari itu, jadi aku hanya menatap hal secara random dari tempatku duduk. Hal random kali itu adalah seorang anak yang  duduk di pinggir jalan, tepat di hadapanku.

Rambutnya kecoklatan karena terpampang matahari, seperti kulitnya. Pakaiannya rapi, kaos dan celana pendek, tapi lusuh. Anak laki-laki itu mungkin baru kelas 5 sekolah dasar, tapi kukatakan padamu Dewi Fortuna tidak pernah memihakku dalam hal menebak usia dari penampilan. Tangan kirinya memegang ‘kerincingan’ yang tersusun dari tutup botol minuman ringan, sedangkan tangan kanannya memegang potongan batang pohon sepanjang tutup bulpoin.

Pada awalnya kupikir itu tebu, karena beberapa kali ia membawa batang itu ke mulutnya dan menggigiti kulit kayunya sampai lepas. Tapi kemudian ia  melakukan hal lain dan aku tahu bahwa itu bukan tebu.

Anak itu menggali tanah, kemudian ia membenamkan batangan yang sudah ia kuliti kulit kayunya. Ia menanamnya. Matanya memandang sekeliling seakan ia takut akan ada seseorang yang menangkapnya karena ia baru saja menenggelamkan sebatang kayu dalam tanah.

Ketika itu matanya menangkapku, dan dengan terpaksa aku harus memalingkan wajah. Lampu hijau.

Sepele memang, tapi aku merasa terperangah dengan apa yang baru aku lihat. Apa anak itu baru saja melakukan stek? Tanpa tumbuhan induk? Jenius, tapi agak bodoh, juga patut diacungi jempol dan yang melihat harus malu karena masih membuang sampah sembarangan.

Mungkin itu alasan kenapa aku menulis ini. Karena aku malu pada diriku sendiri.

Aku punya banyak cita-cita. Dan ketika orang-orang bertanya, aku akan mengatakan–setelah menjawab duta luar negeri dan penulis–bahwa cita-citaku yang ke 105 adalah menjadi tukang ledeng di Jakarta.

Hey, don’t laugh! Untuk apa punya menteri-menteri baru kalau tidak bisa membereskan banjir ibu kota? Uhhhh, no. Jakarta darurat banjir.is bullshit, yang benar adalah INDONESIA darurat banjir. That sounds better 🙂

Jika dunia itu semudah bermain The Sims (tahu kan, permainan menjadi Tuhan itu), aku mungkin akan merubuhkan semua bangunannya dan membangun kembali Jakarta, versi tahun ’80.

Tapi sumpah, jika kau melihat  anak itu seperti aku, kau akan berhenti meremehkan anak kecil, apalagi yang duduk di pinggir jalan, dengan ‘kerincingan’ di tangan dan benih pohon di tangan lainnya.

Ayolah, bukannya sudah terlalu lama kita merusak dunia ini?

Isyarat

Sembunyi-sembunyi. Aku memandangnya secara sembunyi-sembunyi.

Wanita itu duduk di hadapanku, di dalam angkutan umum sore itu,  setelah aku pulang sekolah. Lagi-lagi naik angkutan umum? Jangan khawatir, terkadang kau akan menemukan hal-hal menarik yang biasanya akan kau abaikan begitu saja.

Dari speaker  headsetku, aku dapat mendengar lagu ‘magic’, one direction. Samar dan pelan. Aku menyetelnya dengan volume paling kecil.

Meskipun begitu, aku masih saja tidak mendengar apa yang dikatakan oleh wanita di depanku. Tangannya bergerak lincah, dan alisnya terangkat. Tapi aku tidak mendengar suara apapun.

Wanita ini kehilangan kemampuan bicaranya. Atau mungkin tidak pernah punya sama sekali. Salah satu dari itu, aku tidak tahu.

Dari sudut mataku aku meneliti gerakan tangannya. Yang notabene 17 kali lebih cepat daripada gerakan tangan guru kesenianku di sekolah.

Tangan menutupi kepala? “Payung?”

Gerakan seakan mengusir…”keluar angkutan?”

Dua kepalan tangan saling menimpa satu sama lain? …aku tidak punya ide mengenai apa artinya.

Jari telunjuk menunjuk ke atas? Apa? Langit? Tuhan?

Kemudian, wanita itu tiba-tiba berhenti. Ia mamandang lawan bicaranya, yang saat itu duduk di sampingnya dan berwajah kebingungan. Selama beberapa saat seperti itu, sebelum akhirnya wanita berambut pendek itu tersenyum dan menggerakkan jarinya di permukaan kaca yang berembun.

Ngerti?

Aku tidak melihat bagaimana respon yang ditanya, karena aku cepat-cepat memalingkan muka.

Biar kukatakan padamu: bukannya aku tidak punya hati. Tapi berbicara dengan orang tuna wicara karena sekedar rasa penasaran tanpa ada kemauan untuk menolong (andai saja ia butuh pertolongan), menurutku sangatlah tidak bijak. Kalau ia butuh pertolongan, ia akan mengisyaratkannya padaku. Aku tidak akan memandanginya dengan mata besar yang  penasaran. Manusia bukan hewan sirkus.

Tapi bertemu dengannya membuatku berangan-angan, dan membuatku memasukkan satu nomor lain dalam wishlist ku: aku ingin belajar bahasa isyarat. Entah secara aktif maupun pasif, setidaknya aku akan mengerti jika nanti aku bertemu dengan wanita itu lagi. Mungkin.

Mungkin, hanya mungkin…

Oh, sudah waktunya turun. Dan payungku terbalik begitu aku membukanya.

Pesawat Pak Habibi

Setiap pulang sekolah hari Jum’at, aku dipaksa untuk berganti angkutan umum sebanyak 2 kali. Tentu saja kegiatan oper-mengoper menyenangkan kalau saja tasku ringan, dan hari cerah, dan angkutanku sudah menunggu di pojokan. Oke, aku akan mengeluh. Sedikit. Hari itu bawaanku dua kali lebih banyak daripada biasanya, dengan satu tambahan tas kertas berlubang karena terkena sudut pigura yang tajam di dalamnya, mendung dan hujan seakan bersekutu untuk mengkhianati  matahari (and they did it veeery cruel, you know, storm and rain? Not a good combination), dan masalah payungku yang terbalik? Tas punggungku basah kuyup seakan baru kuceburkan ke dalam kolam ikan teri. Berita baiknya adalah angkutanku sudah tiba saat aku turun dari yang sebelumnya,.masih bergulat dengan tetesan air dan gagang payung, juga tas kertas yang lembab.

Bagian dalam angkutan lembab. Aku menghela nafas dan mengambil duduk. Merapikan payung lipatku yang seperti golden retriever baru dimandikan. Satu-satunya penumpang selain aku, seorang siswa dari sekolah lain, merengut tidak setuju saat air dari payungku menyipratinya.

Aku tidak peduli. Aku basah. Tasku lebih basah lagi. Dan aku tidak mau melihat orang yang lebih sebal daripada aku.

Suara hujan membenamkan lagu ‘sight of the sun’-nya fun, dan semakin tidak terdengar lagi ketika segerombolan ibu-ibu dari pabrik rokok  pinggir jalan memasuki angkutan. Butuh kekuatan ekstra dan bonus kesabaran untuk tidak memutar mata dan menyumpah.

Kini angkutan menjadi super sempit, hanya menyisakan sedikit tempat bagiku dan area gerak tanganku sehingga aku tidak bisa menggapai ponselku dan mengeraskan volumenya. Secara terpaksa aku harus mendengar celotehan ribut 7 wanita pekerja di hadapanku.

Untuk orang se-bad mood aku, percayalah, kalau saja aku tidak tahu diri, aku pasti sudah meledak di dalam sana. Mereka membicarakan hampir tentang apapun! Anak, kantor, teman yang tidak aku kenal, politik, diskon sayur pagi hari, dan tentu saja, trending topic Indonesia Raya tahun ini: banjir.

Ibu pelinting di hadapanku, yang suaranya paling keras dan kalimatnya paling tajam, berkata kepada temannya:

Mangkane kongkonen Pak Habibi nggae pesawat sing lek misale banjir isa mumbul!

Terjemahannya: Maka karena itu mintalah Pak Habibi membuat pesawat yang begitu ada banjir bisa langsung melayang!

Terlepas dari suasana hatiku dan suasana lembab di sekelilingku, aku berusaha untuk menahan tawa. Entah kenapa ide tadi terdengar menarik sekaligus lucu di telingaku. Aku tersenyum kecil, dan siswa tadi menatapku heran.

Tanpa sadar aku menghabiskan sisa perjalananku mendengarkan sesi tukar informasi para ibu pelinting rokok itu.

Order Made yang dinyanyikan oleh Radwimps terdengar samar dan lembut:

Aku yakin seseorang pernah bertanya padaku: masa lalu atau masa depan? Pilih salah satu dan aku akan membiarkanmu melihatnya.

Aku memilih masa lalu. Agar alih-alih menjadi orang yang kuat, aku akan menjadi orang yang baik hati.

Agar aku mengerti apa arti kenangan.

In The Meanwhile…

Tempat: kelas
Posisi(sementara): 4 dari pintu, 2 dari depan, bagian kanan.
Waktu: jam 12 lebih sedikit
Jam pelajaran: kimia, mungkin, entahlah, hampir tidak peduli

Bukannya aku tidak tahu sopan santun dengan nge-blog saat jam pelajaran, tapi memang otakku tidak bisa diisi apa-apa lagi. Terlalu penuh, melampaui kuota yang bisa disimpan oleh otakku. Saat ini di hadapanku terdapat lembar kerja siswa yang dibuat oleh guru pamong kelasku. Tentang materi yang rumit dan penuh coretan, tingkat rasa jenuhku menaik 2 level.

Aku bukannya malas, sudah kubilang otakku overload. Jika diisi lagi aku pasti akan meledak.

Oh.

Di pojok ruangan 2 orang temanku.sedang bercumbu dengan ponsel mereka. 3 murid yang kurang mujur nasibnya sedang bergulat dengan makanan bernama ”titrasi”, one to one dengan 3 soal. Selebihnya pontang panting menyalin mengerjakan tugas fisika kami, sisanya menatap papan tulis dengan tatapan kosong.

Sebenarnya guru pamong atau bukan, aku yakin tidak akan ada bedanya. Toh kami bukannya butuh orang pandai penerima nobel, kami butuh orang sabar yang bisa menjelaskan.

Kipas angin berputar, jendela terbuka, langit mendung, aku mengantuk.

Pikiran bahwa besok ada ulangan matematika, dan lusa fisika tidak membuat mataku jadi lebih ringan.

Aku bertanya untuk ke-aku-tidak-lagi-menghitung-berapa-kali-nya:

Untuk apa aku disini?

Alasan-Alasan Kenapa Aku KURANG Suka Fisika

Sebenarnya aku punya banyak (percayalah, aku punya BANYAK) alasan kenapa aku kurang menggemari salah satu pelajaran inti di jurusanku ini. Tapi aku akan menyingkatnya jadi beberapa poin saja. Alasan pertama adalah karena aku berbaik hati, yang kedua adalah karena aku tidak mau dianggap tukang ngomel.

Jadi begini:

1. Soal fisika selalu soal cerita
Tidak seperti matematika atau kimia (yang walaupun sama-sama soal cerita namun SEDIKIT lebih mudah dimengerti), soal fisika harus dibaca minimal 2 kali dan terkadang harus digambar dengan segala kerumitannya. Belum begitu sering kali ketika aku sudah mulai menggambarnya, aku malah tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan yang sudah kugambar.

2. Fisika sulit diaplikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Hal yang satu ini persis dengan kimia, tapi karena sekarang aku sedang membahas bagimana indahnya kehidupan fisikaku, aku akan mengabaikannya.

Begini, aku tidak mungkin mengaplikasi masalah gerak parabola dalam kehidupan sehari-hariku. Misalnya saja seperti ini: aku melempar sebuah bola. Alih-alih sampai ke ujung lapangan, bola itu malah “nyangkut” di atas pohon dengan ketinggian h. Pertanyaannya: berapa kecepatan awal bola?

Hell! Kenapa tidak mereka tanyakan saja sekalian pohon jenis apa yang terkena bolaku?

Ehm, but seriously, yang kutanyakan pertama kali ketika aku melihat soal itu adalah: bagaimana cara menurunkan bolanya?

Selain perkara tentang pertanyaan yang aneh nan tidak mungkin seperti contoh di atas, aku juga sering berangan-angan seperti ini: aku tidak mungkin bisa mencari makan dengan cara menghitung berapa impuls seorang petinju yang menggampar muka lawannya.

Bisa membayangkan? Aku tidak.

3. Terlalu banyak rumus, terlalu sedikit ruang di otak
Aku tahu bahwa seharusnya rumus itu adalah untuk dipahami dan bukannya untuk dihafalkan setiap h-1 ulangan, tapi untuk seseorang sepertiku (dan banyak orang lainnya) hal ini sukar dilakukan. Aku ingat guru lesku pernah berkata: “masuk jurusan IPA itu lebih mudah, karena bab 1 dengan bab lainnya selalu berhubungan satu sama lain. Tidak seperti jurusan lain yang setiap ganti bab selalu membahas hal baru”

Itu sebelum aku memasuki masa penjurusan. Aku sama sekali tidak tahu bahwa apa yang dilakukan beliau adalah promosi kepadaku, entah sengaja atau tidak. Yang pasti, kini, saat aku memasuki medan aslinya, aku menyadari apa arti lain dari perkataan guruku.

…jika 1 bab berhubungan dengan bab lain…bukannya itu artinya jika aku tidak mengerti 1 bab, aku akan kewalahan untuk bab-bab selanjutnya?

Dan itulah yang terjadi padaku.

Terima kasih, Pak. Atas promosi dan nasihatnya. Akan saya ingat baik-baik dan simpan dalam kepala.

4. Tidak pernah selesai dengan hanya 1 rumus
Aku ini manusia instan. Aku suka sesuatu yang akan langsung terlihat hasilnya begitu aku mulai mengerjakan (mungkin karena itulah aku selalu gagal untuk menyukai tugas sekolah, karena aku tahu mereka tidak akan pernah selesai). Satu soal fisika minimal membutuhkan 2 rumus untuk menuntaskannya. Untuk kasusku, biasanya aku membutuhkan lebih. Itu berarti lebih banyak waktu tersita dan lebih banyak kertas terbuang untuk lahan buramku.

Juga lebih banyak stress untuk ditumpuk.

Soal fisika membutuhkan penjawab soal yang memiliki kemampuan logika tinggi, yang bisa melihat cahaya jawaban dibalik pekatnya awan masalah, dan menemukan pencerahan di balik pertanyaan yang berputar-putar.

Aku tidak punya kesabaran semacam ini. Dari pada membuka buku untuk mengerjakan soal, aku lebih memilih untuk melemparnya kedinding (salah satu alasan kenapa terdapat banyak sobekan di sampul buku kerjaku).

5. Tak lain tak bukan, guru yang mengajar mata pelajaran ini
Ini bukan pertama kalinya aku bertanya: apa tidak ada guru fisika yang sungguh-sungguh MENGAJAR fisika di sekelilingku?

Bukan aku tak tahu sopan santun dengan mencemooh guruku sendiri (tak tahu sopan santun adalah perilaku sopan yang tertunda), tapi terkadang aku tidak mengerti apa yang ada dipikirkan oleh para mahaguru yang amat sakti mengatasi fisika ini.

Bukankah mereka pernah menjadi murid?

Apakah berbeda rasanya jika menjadi guru?

Tidakkah anda seakan melihat diri anda sendiri jika melihat murid-murid?

Aku tidak mengerti.

Kami ini hanya murid biasa. Sratch that. Aku ini hanya murid biasa. Aku tahu kelas kecil kami dipenuh sesak oleh 36 kepala. 37 jika sang guru diikutsertakan. Tapi bukan berarti anda dapat memukul rata kemampuan kami. Tolong berhenti menyamakan kepintaran 1 murid dengan 35 murid lainnya. Jika mungkin para guru itu menganggap kami adalah turunan Einstein, percayalah, beberapa dari kami adalah turunan ke delapan atau mungkin kesembilan. Kami tidak mendapat kesaktian kakek buyut kami.

There, i spilled it.

Aku tidak bermaksud untuk menghasut kalian agar membenci pelajaran satu ini. Setiap orang terlahir dengan keistimewaan sendiri-sendiri. Aku tidak iri dengan mereka yang menganggap fisika sebagai pelajaran favorit (well, mungkin kadang-kadang, karena aku tidak pernah bisa merasa seperti itu). Posting ini semata-mata aku tulis untuk menuangkan stress akibat ulangan yang akan datang 24 jam dari sekarang.

Aku tidak berharap muluk-muluk. Aku hanya berharap beberapa biji soal yang berhasil kucuri dengar benar adanya.

Saat Ulangan Menjadi Pelengkap 4 Sehat 5 Sempurna…

Saat ulangan menjadi pelengkap 4 sehat 5 sempurna…Press the “SRESS” button.

Jangan khawatir, itu normal.

I have the tendency to write my blog when i have a small mountain of tasks and tests behind me.

Aku gila, nyaris. Sekolahku gila, mungkin. Guru-guruku yang menyebabkannya, aku yakin.

Hei, hentikan tatapan mencemoohmu itu, aku tahu kau memikirkan hal yang sama denganku.

Berikan aku waktu sebentar untuk memperjelas kalimatku di atas. Mungkin daftar kecil ini akan membantu.

3 Sept: Kuis biologi I babak 1

4 sept: Kuis biologi II babak 1

5 Sept: Ulangan kimia (menjawab yakin 28 soal dari 50)

6 Sept :Ulangan sejarah (dengan yakin menulis anak dari sedolepen adalah ANUSAPATI *menangis*)

7 sept: TUHAN MEMBERKATI, guru fisikaku yang mengajar dengan kecepatan 120 km/menit (dan mengira kami belajar dengan kecepatan yang sama) mengundur yang satu ini

8 sept: Ulangan matematika (andaikanlah begini: diberi tugas 1+1, di ulangan di beri soal setingkat olimpiade nasional)

10 sept: Ulangan bahasa Inggris

11 sept: satu-satunya hari kosong, mungkin. Seingatku hari ini guruku baru saja menambahkan satu tes lagi. Aku lupa, setengah tidak peduli.

12 Sept: Ulangan PKn tentang ilmu politik dan Ulangan biologi II babak 1 (super-wonder-double-pack)

13 Sept: Ulangan fisika oleh guru 120 km/menit ku.

Sekarang katakan padaku bagaimana bisa semua ini manusiawi.

Mungkin memang tidak, setidaknya saat ini. 10 tahun lagi aku akan mengagumi diriku sendiri yang sudah berhasil melewati babak yang padat ini.

Bicara soal ulangan. Guru itu punya berbagai macam jenis.

1. Tahu, tapi “tidak tahu”.

Guru jenis ini punya kesempatan untuk disukai para murid karena kemampuannya untuk bersabar dan memilih untuk diam walaupun ia tahu jari-jari muridnya sedang membentuk angka 24 di bawah meja, atau sedang mengetik terburu-buru daftar pertanyaan di blackberry meassanger-nya. Guru seperti ini menyenangkan, entah kenapa tidak pernah menjagaku saat aku menghadapi pelajaran neraka.

2. Mercusuar.

Ditakuti, namun dibicarakan di balik punggung sendiri 7×24 jam. Guru seperti ini biasanya tidak pernah menunduk. Men-scan seluruh sisi kelas sejak bel ulangan berbunyi. Bagi mereka yang belum pernah melakukan kecurangan kecil-kecilan yang sering mungkin akan merasa terintimidasi oleh guru semacam ini. Bukan berarti aku sering melakukannya.

3. Lihat, Tunjuk!

“Mbak yang disana, bisa tolong ulangannya dikerjakan sendiri?” Mungkin kita sering mendengar kalimat seperti ini saat ulangan. Guru pengawas jenis ini tidak seperti jenis kedua, namun justru karena ia tidak terlihat waspada, murid menjadi berpikir bahwa mereka bisa berbagi “hasil”. Eit, tunggu dulu. Justru jenis seperti inilah yang harus diwaspadai, walaupun jarang  mengamati, begitu sang guru mendongakkan kepalanya, minimal satu orang akan tertangkap basah. Dan akan langsung memberi peringatan I, dengan menyebut nama atau posisi. Jika kau memang tidak punya rasa malu, pengawas seperti ini bukan masalah.

4. Tegas-Lugas.

Yang seperti ini, sebaiknya jangan main-main. Bicaranya hanya sesekali, terkadang hanya menunduk sepanjang waktu ulangan, tapi begitu kena, pasti langsung diusir keluar ruangan. Bukan masalah besar sebenarnya kalau kau ingin mengikuti ulangan susulan, tapi aku tidak yakin apakah kupingmu cukup tebal untuk menerima omelan dari orang tuamu yang dipanggil, dan guru yang mengusirmu, dijadikan satu.

5. Duduk, diam, tertidur.

Hanya boleh dilakukan guru yang sudah sepuh, yang sudah lelah mengamati murid yang mengenakan seragam itu-itu saja selama masa mengajarnya. Tidak akan berceramah (sampai sekarang aku heran kenapa murid-murid tidak boleh ramai karena bisa menganggu temannya kalau pada kenyataannya guru pengawas lebih sering berceramah sehingga membuat muridnya tidak fokus) sepanjang Lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan selusin kali, hanya akan meletakkan jari telunjuk di depan bibir sambil berkata “Boleh, asal jangan berisik.” Dan setelah itu muridnya akan menggila.

Sebenarnya bukan maksudku untuk mencemooh para guru pengawas, mereka hanya melakukan tugasnya. Aku yang tidak pernah berdiri di posisi mereka tentu saja tidak akan mengerti, dan agaknya aku  tidak ingin berada di posisi itu.

Aku ini pengamat, dan aku mengamati.

Percaya atau tidak, sebenarnya guru merupakan salah satu topik paling diminati para penulis 😉